Depzkwan's Blog

My Life's Passion

Biarkan Saat Kami Sah… 

Tangan kanannya mengelus pelan punggung tangan kananku. 

Duduk di bawah pohon tua yang rindang di tengah hutan lindung membuat kami agak terkantuk-kantuk. 

Kepalaku bersender pada bahunya. Sudah ingin tidur saja, tapi kutahan supaya tidak ke alam mimpi. Rasa kantuk ini seperti berantem dengan angin sepoi-sepoi yang hilir mudik tanpa ampun. 

“Engga lama lagi, ada sesuatu yang akan tambah di jarimu sebelah sini,” bisiknya dengan suara khas pria. 

Aku menanggapinya hanya dengan sunggingan bibir. Sulit dipercaya akhirnya dia memuntahkan kata-kata itu. Kucubit pipinya karena gemas. Eh, dia malah balas mencubit juga. Terjadilah perang cubitan selama… beberapa detik. 

Kemudian ia mengelus-elus pipiku yang dicubit olehnya. Eh, tiba-tiba malah mencium keningku sambil memelukku erat. Engga mau pisah tampaknya. Badannya yang hangat membuatku sangat nyaman berada di dekatnya. 

Hari masih sore. Sinar matahari yang sebentar lagi beranjak dari peraduannya menembus celah-celah daun pepohonan. Cukup silau. 

Saat aku kembali ke posisi duduk semula dengan elegan ia menampilkan telapak tangannya di depan mukaku. 

Ahhh… Andaikan waktu berhenti sesaat. Membiarkan kami sejenak berduaan tanpa mengenal waktu. Tanpa diganggu juga oleh ponsel, bahkan media sosial. 

Biarkan saat kami sah dunia baru mengetahuinya. 

#nulisrandom2017 dari nulisbuku

Advertisements
Leave a comment »

Akhirnya Tunangan Juga

Tangannya diangkat, kukira akan memukul, ternyata dia membelai rambutku.

“Besok makan siang bareng ya, aku jemput,” katanya lembut. Aku menjawab dengan senyuman. 

Yup, akhirnya dijemput. Tapi kenapa serumah semua dibawa? Dikira kan berdua ya. Lihat semobil penuh rasa bete sudah merasuki jiwa. Tapi sunggingan senyum harus tetap dipaksakan supaya tak dikira jutek oleh keluarganya. Sebenarnya juga tambah tak enak sewaktu aku duduk di kursi penumpang depan menemaninya sebagai supir saat itu. 

Ternyata boro-boro makan siang. Kami turun di villa Lembang yang dingin-dingin empuk. Ia tak bicara juga tentang menginap. Jadi… Memang tak menginap kan? Owh, maap, setelah turun aku langsung diajak dahulu ke ruang makan untuk bersantap ria. 

Kemudian hal yang membuat dag-dig-dur terjadi. Ia memegang tanganku, menyeretku ke depan keluarganya, merangkulku supaya tenang, lalu berbicara…

“Ma, Pa, Kak… Ini… Calon… ”

“Calon istri? Selamat ya, Han.” Kakak laki-lakinya memotong. Bagaikan gledek menyambar jantungku. Aku pun langsung menatap Han meminta kepastian. 

“Bukan, Kak! Dia calon pembantuku…” Terpotong. Kenapa? Diam. Sambil memandangku. Di depan keluarga gini siapa yang grogi coba. Apalagi yang buat kesal itu jawabannya itu lho. 

“…yang setia. Menemaniku terus. Sampai akhir hayat,” lanjutnya, masih sambil memandangku, sampai aku salting tujuh keliling. 

“Engga harus ‘pembantu’ kan,” bisikku sambil mencubit pinggangnya. 

“Aw… Ya… Begitulah Ma, Pa, Kak. Semoga dia diterima di sisi… Maksud saya, kehadirannya diterima di keluarga ini.”

Mulai ngaco. Tapi, sebelum aku mulai protes lagi. Ia mulai mencium keningku, turun ke hidung… Turun ke… Tangan… 

Tara… Bukan sulap bukan sihir. Setelah selesai adegan menciumnya, tiba-tiba ada sebuah cincin nyantol di jari manisku yang memang sudah manis ini. 

Setelah dua tahun kami menjalin kasih… (Lagu romantis berkumandang) 

Setelah suka duka kami lewati… 

Setelah badai menerjang.. (Owh maap, harusnya “walau badai menghadang”)

Cinta kami akhirnya tersatukan… 

“Cincinnya bagus kan, Ma?” ujarnya tanpa rasa bersalah. Mencopot kembali cincin dari jariku lalu memberikan pada mamanya. 

Aku yang sudah melayang tiba-tiba dijatuhkan kembali. Untung ga loncat jingkrak-jingkrakan. Mau ditaruh di mana mukaku? 

Aku yang malu pun keluar rumah, eh…  villa. 

Seperti di sinetron saja, ada adegan grab wrist dan membalikkan badanku. 

“Sayang, sori,” ucapnya lembut sambil memegang kedua pundakku erat. Namun, tatapanku masih penuh amarah. 

Salah satu lutut ditekuk. Dan satunya lagi dibiarkan memanjang di tanah. Ia mengeluarkan cincin lain dari kantongnya. 

Tidak ada basa-basi dulu, langsung saja nyelonong mengambil tangan kiriku dan menyematkan cincin itu di… Oke… Sementara di jari tengah karena ternyata dia membelinya agak kebesaran dikit. 

Karena katanya dia beli dari temannya, jadi bebas mau tukar kapan saja. Asal udah bayar juga sih. 

Dua hari telah berlalu sejak kejadian itu. 

Well, let’s see tomorrow for the new ring. 😊

#nulisrandom2017 dari nulisbuku 

Leave a comment »

Generasi Milenial

Generasi milenial sekarang banyak banget tren yang naik turun dalam satu tahun.

Dalam dua tahun terakhir ini saja sudah banyak tren yang terlewati. 

Sebut saja ada tren apa di bulan yang sama sekarang ini tapi di tahun lalu? 

Kurang lebih ada tren Valak dan Pokemon Go (pokemon di awal Bulan Juli sih sebenarnya) di waktu yang sama tahun lalu. Tahun ini? Bisa dikatakan Fidget Spinner. 

Entah apa lagi tahun depan, waktu dan tren cepat sekali berlalu.

Perubahan-perubahan ini tidak seperti yang dialami anak 90an. Satu jenis mainan bisa lumayan lama jangka waktu bertahannya. 

Saya setuju dengan Youtuber Amerika ini yang mengatakan (kurang lebih) bahwa seharusnya orang tua tidak memaksakan kehendak pada anaknya karena zaman orang tua dan zaman anak sekarang sudah berbeda. Begitu juga sebaliknya, anak zaman sekarang jangan memaksakan anak 90an untuk selalu bisa memainkan perubahan tren yang terjadi sekarang ini. (Semoga saya tidak menyalahartikan video Ryan Higa ini.)

Saya sendiri sebagai anak 90an melihat banyak anak zaman sekarang yang selalu mengikuti perubahan tren supaya diaku atau gagayaan di masyarakat luas. 

Namun memang tak bisa disangkal juga jika media sosial pun bakal laku jika benar-benar mengikuti tren yang ada. 

Hanya mungkin sifat pengikut tren saja yang berbeda-beda. Ada yang berlebihan, ada juga yang biasa saja (sekedar tau).

Tidak ada yang salah sebenarnya dalam mengikuti tren, tinggal bagaimana kita bisa mengolahnya menjadi hal positif dan memfilter yang negatif. 

#nulisrandom2017 dari nulisbuku

Leave a comment »

Besar Kepala? 

Kadang memang masih ada orang yang merasa sudah berkecimpung di dunianya belasan atau puluhan tahun jadi merasa tahu segalanya dan besar kepala ya… 

Lhaaa… Yang SEBENARNYA engga tahu apa-apa juga malah seringkali sok tahu dan besar kepala juga… Anehnya, pede lagi. 

Oke, balik lagi…

Saya salut banget melihat salah satu youtuber Amerika yang sudah nyemplung selama 11 tahun tapi sama sekali sikap dan sifatnya engga seperti sudah di atas langit. Down to earth nya tuh bener-bener earth banget. 

(Sebenarnya saya juga baru tahu ada youtuber seganteng dia dan selama sebelas tahun itu saya baru tahu kemarin. Memang telat banget. But better late than never kan)

Entah karena dia dulu memang engga pernah mau lanjut sekolah… 

Entah karena itu dia anggap sendiri bodoh… 

Entah karena kakak laki-lakinya terlihat lebih pintar akademik daripadanya (atau malah lebih pintar segalanya)… 

Atau entah lainnya… 

Namun, selama sebelas tahun itu dia sudah menghasilkan video-video yang menurutku ide-idenya absolutely brilliant

Segitunya dia sudah menelurkan banyak video, tapi dia masih menganggap dirinya nothing.

Sebenarnya orang yang “terlihat” atau “dianggap” pintar itu seperti gimana sih? Apa yang menjadi pertimbangan bahwa orang itu pintar atau tidak? 

Mungkin anda lulusan universitas terbaik, atau mungkin anda lulus dengan nilai terbaik, atau mungkin anda punya uang miliyaran dolar… 

Namun,

“Apakah anda tahu bagaimana rambut diwarna dan bagaimana cara mempertahankannya? 

Apakah anda bisa masak dan mempersiapkan 3 course meal

Apakah anda tahu cara mengganti ban? 

Apakah anda tahu cara memperbaiki toilet yang bocor? 

Atau apakah anda tahu cara menulis, film, dan edit video yang tidak terlalu panjang, dan perhatian penonton bisa terpaut sampai akhir? 

Karena jika anda tahu, TOLONG ajari saya.” – Ryan Higa (7 April 2017)

Jadi, apakah anda tahu segala sesuatu yang ada di dunia ini? 

#nulisrandom2017 dari nulisbuku 

Leave a comment »

Remember when… 

Remember when we looked at the sun? 

Remember when we looked at the moon? 

Remember when I see your eyes sincerely? 

Remember when we did some jokes? 

Remember when you teased me? 

Remember the time we spent together? 

Remember the time that just the two of us? 

Remember that we made the best of everything we did? 

Well, Let’s sing this David Choi and Kina Grannis’ song:

We’re going to the beach today
We’re gonna laugh and sing our cares away
The sun is shining on our face
We can take it in and let it out and say…

Chorus
La, la, la, la-la, la, la
La, la, la, la, la-la, la, la
X2

I do enjoy my time with you
Making the best of everything we do
We’re gonna try on something new
And we’ll make it ours before the day is through

Chorus
La, la, la, la-la, la, la
La, la, la, la, la-la, la, la
X2

And now the sun has said goodnight
Just want to say I had a real good time
I think I really feel alright (alright)
And I don’t ever ever wanna say goodbye



Anyway, I really had a real good time with you. 😊


That was really My Time With You. 


#nulisrandom2017 dari nulisbuku

Leave a comment »

Analisis Jerawat

Mari kita menganalisis this BIG acne… 

Kaget juga tiba-tiba dapet jerawat yang segede ini. Jerawat yang di dalam pula. 

Yang saya belajar itu keluhan fisik timbul karena emosi negatif yang dialami sebelumnya. 

Hmm… Saya pikir-pikir lagi emosi negatif apa yang telah saya alami? 🤔

Keluhan fisik jerawat itu berhubungan dengan energi paru-paru yang melemah. Salah satu yang mengakibatkan energi paru-paru melemah adalah emosi sedih. 

So, apa yang telah membuat saya sedih? 🤔

Setelah dipikir-pikir lagi, mungkin kejadian hampir 2 bulan lalu yang menyebabkan ini terjadi. Kejadian sedih? Yah, maybe. Sebenarnya saya tidak mau ambil pusing. Tapi mungkin alam bawah sadar mengambil alih karena pengaruhnya memang berjalan hingga saat ini dan memunculkan hiasan indah di wajah ini. 

Merasa gagal mengolah emosi tersebut karena jerawat ini. 

Karena jika tabung energi cukup meski dihadang emosi negatif, seharusnya hal ini tak terjadi. Namun, tampaknya kenyataan berkata lain. Yah, tabung energi tampaknya di bawah ambang batas. 

Tapi fokusnya sekarang ga boleh tertuju ke situ. Fokusnya sekarang adalah penanggulangan kejadian tersebut dengan emosi positif yang stabil supaya energi paru-paru meningkat kembali dan keluhan jerawat berkurang lagi, apalagi yang big ini. 😊

#nulisrandom2017 dari nulisbuku

Leave a comment »