Depzkwan's Blog

My Life's Passion

Kejutan di Subuh Buta

Pagi yang dingin. Di dalam mobil ia memegang tangan kananku erat. Hangatnya begitu merasuki jiwa. Rasa nyaman yang tak pernah kudapati sebelumnya. Lagu itu pun masih mengiringi perjalanan kita. 

———-

我为你心跳 我为你祈祷
Wo wei ni xin tiao, wo wei ni qi dao
My heart beats for you, and i pray for you.
因为爱让我们能遇到
Yin wei ai rang wo men neng yu dao
It is because love let us meet
因为你开始燃烧 痛才慢慢治疗
Yin wei ni kai shi ran shao, tong cai man man zhi liao
It is because you passion is starting to burn now, the pain is slowly cured
我要和你拥抱 牵你的手一起去奔跑
Wo yao he ni yong bao, qian ni shou yi qi qu ben pao
I want to embrace you, hold you hand and run together with you.
你存在的这一秒 会不会是我依靠
Ni cun zai de zhe yi miao, hui bu hui shi wo yi kao
This second that you exist in, will it be my support?

给我的微笑 全都记在脑海了
Gei wo de wei xiao, quan dou ji zai nao hai li le

The smile you gave me, it is all saved in my mind

变成快乐的符号

Bian cheng kuai le de fu hao

It is a symbol of happiness.

节奏在跳跃 这是恋爱的预兆

Jie zou zai tiao yue, zhe shi lian ai de yu zhao

The rhythm is leaping. It is a symptom of falling in love.

挑动我每一个细胞

Tiao dong wo mei yi ge xi bao

It provokes every cells of mine.

天亮才睡觉 让我思绪都颠倒
Tian liang cai shui jiao, rang wo si xu dian dao
I will only sleep at daylight,  it reverse my thoughts.
这次我不想放掉
Zhe ci wo bu xiang fang diao
This time, i don’t want to let go.
防备全关掉 只许你无理取闹
Fang bei quan guan diao, zhi xu ni wu li qu nao
All my defences will be switched off, i allow you to be unreasonable
慢慢走近你的步调
Man man zou jin ni de bu diao
I will get closer to your pace

心也一层一层被你融掉

Xin ye yi ceng yi ceng bei ni rong diao
You melt my heart, layer by layer
一天一天为你开窍
Yi tian yi tian wei ni kai qiao
Day after day, i became better because if you.
一秒一秒想你的微笑

Yi miao yi miao xiang ni de wei xiao

Every second, i am thinking of your smile

——–

Lagu itu? Dari mana ada lagu itu? Lagu yang telah kupakai menjadi ringtone whatsapp khusus. Khusus untuk satu orang. Dia.

Tiba-tiba ada sosok muncul, melongokkan kepalanya dari balik pintu. Mataku terbelalak. Dia!

Subuh-subuh buta begini ngapain coba? Dia duduk di samping tempat tidur dengan ponsel yang masih mengumandangkan lagu 因你而在 dari JJ Lin.

“Kamu pernah pakai lagu ini untuk ringtone whatsapp dariku kan?” tanyanya sambil menatapku.

“Darimana kamu tahu?” balik tanyaku penasaran.

“Engga penting aku tahu darimana. Yang penting sekarang giliranku yang memakai lagu ini untuk semua notifikasi darimu.”

Aku masih terdiam. Antara masih ngantuk dan terkejut.

“Sori ganggu ya. Sekarang kamu siap-siap sana. Aku udah izin ke mamamu untuk ke Karmel (Gereja Karmel di Lembang, Bandung).”

Sudah dibangunkan subuh-subuh, terus tiba-tiba disuruh langsung siap-siap. Aku menjatuhkan diri kembali di kasur dan menutup seluruh tubuhku dengan selimut.

“Hey! Bandel ya…, ” ujarnya sambil menarik selimutku dan mendorongku sampai keluar tempat tidur. Menjengkelkan banget.

“Mandi dulu ya, Darling…, ” katanya sambil tersenyum memaksaku untuk mandi.

Ah… Seperti lagu tadi, senyumnya memang menjadi simbol kebahagiaanku.

#nulisrandom2017 dari nulisbuku

Advertisements
Leave a comment »

Biarkan Saat Kami Sah… 

Tangan kanannya mengelus pelan punggung tangan kananku. 

Duduk di bawah pohon tua yang rindang di tengah hutan lindung membuat kami agak terkantuk-kantuk. 

Kepalaku bersender pada bahunya. Sudah ingin tidur saja, tapi kutahan supaya tidak ke alam mimpi. Rasa kantuk ini seperti berantem dengan angin sepoi-sepoi yang hilir mudik tanpa ampun. 

“Engga lama lagi, ada sesuatu yang akan tambah di jarimu sebelah sini,” bisiknya dengan suara khas pria. 

Aku menanggapinya hanya dengan sunggingan bibir. Sulit dipercaya akhirnya dia memuntahkan kata-kata itu. Kucubit pipinya karena gemas. Eh, dia malah balas mencubit juga. Terjadilah perang cubitan selama… beberapa detik. 

Kemudian ia mengelus-elus pipiku yang dicubit olehnya. Eh, tiba-tiba malah mencium keningku sambil memelukku erat. Engga mau pisah tampaknya. Badannya yang hangat membuatku sangat nyaman berada di dekatnya. 

Hari masih sore. Sinar matahari yang sebentar lagi beranjak dari peraduannya menembus celah-celah daun pepohonan. Cukup silau. 

Saat aku kembali ke posisi duduk semula dengan elegan ia menampilkan telapak tangannya di depan mukaku. 

Ahhh… Andaikan waktu berhenti sesaat. Membiarkan kami sejenak berduaan tanpa mengenal waktu. Tanpa diganggu juga oleh ponsel, bahkan media sosial. 

Biarkan saat kami sah dunia baru mengetahuinya. 

#nulisrandom2017 dari nulisbuku

Leave a comment »

Akhirnya Tunangan Juga

Tangannya diangkat, kukira akan memukul, ternyata dia membelai rambutku.

“Besok makan siang bareng ya, aku jemput,” katanya lembut. Aku menjawab dengan senyuman. 

Yup, akhirnya dijemput. Tapi kenapa serumah semua dibawa? Dikira kan berdua ya. Lihat semobil penuh rasa bete sudah merasuki jiwa. Tapi sunggingan senyum harus tetap dipaksakan supaya tak dikira jutek oleh keluarganya. Sebenarnya juga tambah tak enak sewaktu aku duduk di kursi penumpang depan menemaninya sebagai supir saat itu. 

Ternyata boro-boro makan siang. Kami turun di villa Lembang yang dingin-dingin empuk. Ia tak bicara juga tentang menginap. Jadi… Memang tak menginap kan? Owh, maap, setelah turun aku langsung diajak dahulu ke ruang makan untuk bersantap ria. 

Kemudian hal yang membuat dag-dig-dur terjadi. Ia memegang tanganku, menyeretku ke depan keluarganya, merangkulku supaya tenang, lalu berbicara…

“Ma, Pa, Kak… Ini… Calon… ”

“Calon istri? Selamat ya, Han.” Kakak laki-lakinya memotong. Bagaikan gledek menyambar jantungku. Aku pun langsung menatap Han meminta kepastian. 

“Bukan, Kak! Dia calon pembantuku…” Terpotong. Kenapa? Diam. Sambil memandangku. Di depan keluarga gini siapa yang grogi coba. Apalagi yang buat kesal itu jawabannya itu lho. 

“…yang setia. Menemaniku terus. Sampai akhir hayat,” lanjutnya, masih sambil memandangku, sampai aku salting tujuh keliling. 

“Engga harus ‘pembantu’ kan,” bisikku sambil mencubit pinggangnya. 

“Aw… Ya… Begitulah Ma, Pa, Kak. Semoga dia diterima di sisi… Maksud saya, kehadirannya diterima di keluarga ini.”

Mulai ngaco. Tapi, sebelum aku mulai protes lagi. Ia mulai mencium keningku, turun ke hidung… Turun ke… Tangan… 

Tara… Bukan sulap bukan sihir. Setelah selesai adegan menciumnya, tiba-tiba ada sebuah cincin nyantol di jari manisku yang memang sudah manis ini. 

Setelah dua tahun kami menjalin kasih… (Lagu romantis berkumandang) 

Setelah suka duka kami lewati… 

Setelah badai menerjang.. (Owh maap, harusnya “walau badai menghadang”)

Cinta kami akhirnya tersatukan… 

“Cincinnya bagus kan, Ma?” ujarnya tanpa rasa bersalah. Mencopot kembali cincin dari jariku lalu memberikan pada mamanya. 

Aku yang sudah melayang tiba-tiba dijatuhkan kembali. Untung ga loncat jingkrak-jingkrakan. Mau ditaruh di mana mukaku? 

Aku yang malu pun keluar rumah, eh…  villa. 

Seperti di sinetron saja, ada adegan grab wrist dan membalikkan badanku. 

“Sayang, sori,” ucapnya lembut sambil memegang kedua pundakku erat. Namun, tatapanku masih penuh amarah. 

Salah satu lutut ditekuk. Dan satunya lagi dibiarkan memanjang di tanah. Ia mengeluarkan cincin lain dari kantongnya. 

Tidak ada basa-basi dulu, langsung saja nyelonong mengambil tangan kiriku dan menyematkan cincin itu di… Oke… Sementara di jari tengah karena ternyata dia membelinya agak kebesaran dikit. 

Karena katanya dia beli dari temannya, jadi bebas mau tukar kapan saja. Asal udah bayar juga sih. 

Dua hari telah berlalu sejak kejadian itu. 

Well, let’s see tomorrow for the new ring. 😊

#nulisrandom2017 dari nulisbuku 

Leave a comment »

Sok Tau Bujubuneng (5/edisi Valz/end)

Akhirnya petang telah tiba. Setelah diajak makan malam bersama, Rani pamit pulang.

Sewaktu Rani masih beberes barangnya di kamar Adel, Adel bertanya tentang bagaimana ia bisa sampai ke rumahnya dengan mudah.

“Kan gua udah bilang pake GPS,” jawab Rani sambil memasukkan laptop ke tas ranselnya.

“Engga buta peta kalau belum pernah ke TKPnya?” Adel sambil membantu membereskan alat tulis Rani yang sedikit berserakan di meja kamarnya

“Kan sekarang ada Google View, jadi bisa gampang lihat sekelilingnya ada apa aja,” kata Rani menjelaskan dan mulai mengeluarkan ponselnya untuk memberitahukan tentang Google View.

“Owh, iya iya,” kata Adel sambil melihat sekilas, “gua lupa.” Kemudian nyengir kuda lagi.

“Untung ya, jadi lu ga muter-muter habisin waktu,” kata Adel.

Lalu sewaktu dekat pagar sebelum keluar rumah, Adel meneruskan, “Masa mantannya temen gua ini sok tau banget. Udah tau berjuta-juta tahun belum pernah lagi lewat suatu jalan, terus sok-sokan engga mau dibantu lewat GPS. Jadilah muter-muter di tempat yang sama sampai tiga kali. Ya, temen gua yang mau makan jadi keburu pusing.”

“Haha… lebay lu berjuta-juta tahun,” tanggap Rani dengan santai sambil melewati pagar, kemudian pulang bersama mobilnya.

Setelah Rani berlalu, Adel kembali memasuki rumahnya dan memeriksa ponselnya. Temannya yang dari kemarin tak habis-habisnya curhat tentang mantannya itu sekarang sedikit bercerita tentang aplikasi chatting mantannya itu.

Temen : “Bukannya gua stalking ya, cuma di timeline gua yang dulu ada tag ke dia jadinya bertuliskan ‘unknown’. Terus ternyata dia emang ubah IDnya. Gua jadi berpikir aja, ‘katanya engga akan pernah ubah-ubah kontak biar gampang urusan pekerjaan. Lha sekarang apa? Jilat ludah sendiri? Kayak cemen ya…’”

Adel : “Ya mungkin kontak yang dia maksud itu nomor teleponnya aja kali. Lu juga pasti ngertilah kenapa dia akhirnya ubah ID.”

Temen : “Iya sih, gua ngerti. Tapi kayak cemen gitu keliatannya. Gua aja kagak ngubah.”

Adel : “Ya udahlah… Ngapain dipikirin lagi. Hari ini Valentine-an jadi makan bareng kan?”

Temen : “Kata lu mau nyemil-nyemil aja… Jadi sama si Ucok en Baba juga?”

Adel : “Iye… gua jemput sekarang ya. Mereka mah nanti ketemuan di TKP.”

sumber: WIB Net.TV

sumber: WIB Net.TV

Leave a comment »

Sok Tau Bujubuneng (4)

“Eh, siapa tuh yang married?” tanya Adel saat tiba-tiba ada foto terselip di antara para pemain bulu tangkis.

Rani mengklik foto tersebut lalu mengklik tulisan “visit page”.

“Hoo… Simon Santoso,” gumam Rani, “ternyata 2015 udah married toh.”

“Kenapa, Ran?” tanya Adel sambil bercanda, “sebelumnya dia udah jadi daftar tunggu calon suami lu?” Adel hanya tertawa ngakak setelahnya, sementara Rani hanya nyengir.

“Dari mana lu dapet info kayak gitu?” tanya Rani dibawa serius, “gua kan cuma ngomong doank.”

“Iye, iye. Tau… Hahaha…”

“Betewe…” lagi-lagi Adel seperti akan memulai sesuatu kembali.

“Apa lagi?” Rani pun sudah tampak curiga, “ada apa lagi hubungan yang married sama mantan temen lu itu?”

“Hahaha… tau aja lu mo ngomongin itu.” Kemudian Adel mulai memulai sesi tanya jawabnya lagi.

Adel : “Ini kita ngomong soal pernikahan di Indonesia yang keturunan Chinese ya.”

Rani : “Iya, iya.”

Adel : “Menurut lu kalau cowok diundang ke undangan gitu, bajunya rapih engga?”

Rani : “Ya, rapi donk. Masa engga rapi? Emang ada yang engga rapi?”

Adel : “Nah, kalau lu liat ada yang engga rapi? Maksud gua tuh pakaiannya engga terlalu formal untuk ke undangan dan bawa-bawa tas segede gaban segala. Oke, jangan ‘gaban’. Yang pasti bawa-bawa tas gede.”

Rani : “Mungkin bagian WOnya?”

Adel : “Nah, that’s it. Ga mungkin kan kalau sengaja diundang bajunya kayak gitu?”

Rani : “Ya pake otak sedikitlah. Emangnya si mantan temen lu itu ngiranya apa?”

Adel : “Masa langsung ngiranya itu temen dari pihak cowo? Dateng telat dan engga salaman pula. Apa itu yang namanya temen? Ya pake otak dikitlah ya kalau ngomong juga.”

Rani : “Terus itu siapa?”

Adel : “Iya, bener WO. Tapi bukan WO yang di undangan itu. Temennya si WO ini yang diundang sama temen gua sebagai pihak dari keluarga yang married. Kagok gitu kali mau langsung balik atau gimana, jadi sekalian diajak sama temennya ini yang bareng WO juga.”

Rani : “Mantan temen lu itu emangnya seperti itu? Engga pernah mikir dulu gitu kalau ngomong?”

Rani berusaha netral, tetapi sepertinya sedikit terbawa emosi juga.

Adel : “Engga berani ngomong deh soal itu. Hehehe… Sepertinya mah… Hmmm…”

Adel lalu hanya memperlihatkan sederet giginya yang kuning.

**

“Eh, Valak masih zaman gitu?” tiba-tiba Rani bertanya dengan tetikus yang diarahkan pada salah satu judul link internet. Ternyata setelah mengobrol soal pernikahan tadi, Rani ingin mencari contoh-contoh cerpen sebagai inspirasi ia menulis nanti.

“Kenapa gitu?” tanya Adel ikut memfokuskan pada apa yang ditunjuk Rani.

“Ini kayaknya ada yang buat cerita soal Valak. Mau baca?”

Tangan Adel terlihat diusapkan pada dahinya. Mau baca aja mikirnya sampai segitunya ya.

“Lu ga takut horor kan?” tanya Rani keheranan.

“Engga, tapi kayak tau itu judulnya,” jawab Adel sambil memerhatikan lagi link yang ditunjuk Rani, “oh pantes! Itu temen gua yang nulis,” katanya teringat sesuatu setelah melihat nama yang dikenalnya terselip di bawah link.

“Iya, kasian banget tuh temen gua.” Adel mulai drama lagi sepertinya.

“Kenapa lagi?”

“Temen gua minta tolong baca gitu. Tapi sepertinya mantannya ini engga suka baca, belum dibaca aja udah dibilang garing, bayangin aja gimana perasaan temen gua ini.”

“Becanda kali.” Rani berpikir dari perspektif lain.

“Ya entah ya. Temen gua sih katanya tersungging, tapi engga terlalu nampilin ke mantannya itu. Bahkan waktu itu belum jadian katanya. Ya mbok, kalau engga ahli, jangan sok tau banget gitulah.”

“Hmm…” Rani mengangguk-anggukkan kepala sambil akhirnya mengklik link itu, “katanya garing? Cerita horor bukan?”

“Katanya sih komedi, coba baca aja.” Adel ternyata penasaran juga sama ceritanya.

 

sumber: WIB Net.TV

sumber: WIB Net.TV

1 Comment »

Sok Tau Bujubuneng (3)

“Apa?” Rani tidak mengalihkan perhatiannya dari laptop sejak Adel selesai mandi tadi, tapi hebatnya dia masih perhatian dengan suara Adel yang sesekali ia lirik juga. 

“Lu dari tadi denger gua ga sih?” tanya Adel sambil menggeser pantatnya ke tengah kasur di mana Rani berada.

“Soal hujan dan shower kan?” balik tanya Rani tanpa merasa bersalah.

“Yup, ” jawab Adel singkat sambil ikut memerhatikan apa yang sedang dilihat Rani. “Ya ampun, si ganteng Jonatan Christie toh.”

Rani hanya tersenyum tanpa bersuara. Lalu tetikusnya mengklik foto lain. Lee Chong wei. Pebulu tangkis asal Malaysia yang terkenal itu.

“Hoo.. Itu berita 2016 ya?” tanya Adel yang memang agak kepo.

“Yup. Dia yang masuk final Olimpiade Rio yang di Brasil itu kan? ”

“Ho oh. Itu ada tulisan dan gambarnya juga kan,” terang Adel.

“Itu pas 19 Agustus ya?” tanya Adel pura-pura tapi sepertinya tidak terperhatikan oleh Rani.

Rani : “Di situ sih tertulis tanggal 20 Agustus.”

Adel : “Gua nonton tanggal 19 nya ah.”

Rani : “Eh, seinget gua ga ditayangin di TV nasional deh. ”

Adel : “Iye, gua nonton lagi di TV berbayar tanggal 20 nya, tapi gua yakin itu siaran ulang.”

Rani : “Ada tulisan ‘live’ nya?”

Adel : “Ada, tapi gua yakin itu siaran ulang, coz sebelumnya gua udah nonton juga and udah tau juga kalau Lee Chong Wei yang menang.”

Rani : “Seinget gua itu sehari sebelumnya yang final tunggal Putri deh. Gua inget juga coz lagi ngobrol soal itu sama si Ujang.

Adel : “Ga mungkin, Ran. Gua inget koq pas sehari sebelumnya itu pas lagi nonton malah mati lampu.”

Rani : “Emang Lee Chong Wei yang menang?”

Adel : “Lha, Ujang ngomong Lee Chong Wei yang menang.”

Rani : “Lu budeg kali. Ujang aja ngomong sama gua Waktu itu kalau Lee Chong Wei itu menang sebelumnya lawan Lin Dan.”

Adel : “Ah, gua inget si Ujang ngomong yang menang final itu Lee Chong Wei.”

Rani : “Ga mungkin, Ran. Beritanya aja waktu tanggal 19 kan belum update.”

Adel : “Coba cari lagi yang bener.”

Tanpa memedulikan perintah Adel, Rani menatap Adel sambil melipat tangan.

Rani : “Del, kalau lu nontonnya tanggal 19, berarti tanggal 20 pagi – at least pagi ya – udah turun berita. Atau bahkan tanggal 19 malamnya udah ada berita online-nya.”

Lalu terlihat Rani serius mencari-cari berita Lee Chong Wei di tanggal 19 Agustus. Tak ada satupun yang mengabarkan kemenangan Lee Chong Wei, yang ada hanyalah persiapan Chen Long dan Lee Chongwei dalam menghadapi final keesokan harinya.

Rani : “Tuh, engga ada sama sekali, Del!”

Kerutan berlapis-lapis memenuhi dahinya yang kebingungan.

Adel : “Lu percaya sama gua atau sama berita?”

Kali ini Rani melongo. Menatap Adel dengan keheranan. Mungkin berpikiran, ‘Nih anak kerasukan apa.’

Rani : “Bukan masalah percaya engga percaya donk! Semua beritanya kayak gitu koq.”

Adel : “Terus yang gua tonton apa yang di tanggal 19? Gua mimpi gitu?”

Rani : “Iya kali…”

Kemudian dengan sekali ‘klik’, Rani mendapat berita lagi… “Tuh, Chen Long yang menang tau, tanggal 20 Agustus!!!”

Paras wajah Adel tiba-tiba berubah. Tersenyum aneh. Bahkan menampakkan giginya. Lama-lama ia tertawa. Lagi Rani dibuat melongo kembali dan mungkin berpikiran lagi, “Bener kerasukan nih, anak.”

“Gimana acting gua, Ran?”

Dengan tampang kesal dan berusaha tidak peduli, ia alihkan lagi pandangan ke layar laptop.

“Kesel banget ya, Ran?” tanya Adel tak bersalah yang kali ini tak ditanggapi Rani.

“Itu yang dirasain sama temen gua waktu berdebat sama mantannya, Ran.”

Diam sejenak. Tak ada respon lagi.
“Ran, sori ya, Ran,” rajuk Adel sambil menggoyang-goyangkan tangan Rani dan memberikan senyuman supaya Rani terenyuh.

“Itu mereka debat pas hari H final, tapi si mantannya ngotot kalau itu siaran ulang. Dan sok taunya lagi kalau itu Lee Chongwei yang menang, ngakunya tau dari omongan mantan gua itu. Padahal mah…”

“Iye, Iye. Gua maapin.” Rani memotong pembicaraan dan Adel terlihat sumringah.

“Maacih…,” kata Adel sambil memeluk Rani dari samping, kemudian sebagai pengalih perhatian ia menunjuk berita yang terdapat tulisan yang benar: Chen Long yaitu 谌龙 (red- Chen Lung) dan Lee Chong Wei adalah Li Zongwei 李宗伟 (red-Li Cungwey) .

awal-awal pembicaraan

awal-awal pembicaraan ngotot siaran tunda (1)

ngotot siarannya kemaren malemnya

ngotot siarannya kemaren malemnya (2)

udah ada bukti, tetap ga mo terima (3)

udah ada bukti, tetap ga mo terima (3)

 

 

 

 

 

 

 

sumber: WIB Net.TV

sumber: WIB Net.TV

 

 

 

1 Comment »