Depzkwan's Blog

My Life's Passion

Si Omdo

Vini menonton acara kompetisi Stand Up Comedy. Entah kenapa tahun ini rasanya hambar. Dari puluhan komika, hanya segelintir orang yang memukau.

Pada salah satu komika, juri yang biasa disebut Pak De menyebutkannya seperti om-om yang mau ngebanyol saja. Sudah banyak seperti itu. Orang lain yang bukan komika juga bisa seperti itu. Isi materi komika ini mau lurus, tapi sisi komedinya hampir 99% ga kena. Terasa materi yang malas diasah.

Pikiran Vini melayang pada masa lalu di mana ada seseorang (sebut saja Si Omdo) yang mengaku dirinya disuruh mengikuti ajang ini.

Sebagai bentuk sopan, Vini hanya menimpalinya dengan “masa?” Selama ia berteman dengan Si Omdo ini sama sekali ia tak pernah merasa dibuat tertawa ngakak oleh Si Omdo. Yang ada hanya bertaburan frasa-frasa garing. Apakah itu yang mau diumbar di ajang komedi? Muka mau ditaruh di mana?

Kalau boleh berkesimpulan dari yang juri bilang, Vini berpikir bahwa Stand Up Comedy itu bukan melontarkan materi-materi malas, melainkan materi-materi cerdas. Vini juga merasa otak komika itu dibuat muter supaya bisa melahirkan punch line yang bisa membuat ledakan tawa.

Ngebanyol tidak sama dengan stand up comedy kan? Apalagi yang garing. Sudah terbukti dengan komika gagal tersebut. Atau ngebanyol yang diasah dengan baik memang bisa menjadi bahan Stand Up? Yahhh, mungkin bisa terdengar jelaslah ya, meskipun tiap orang punya selera humor yang berbeda, tapi kalau sudah membuat materi, pasti hasilnya juga akan beda.

Pada kenyataannya juga Si Omdo tidak pernah ikut komunitas stand up, tidak pernah berlatih stand up, apalagi buat materi CERDAS; mau ikut ajang kompetisi stand up?!

Goyang-goyang pantat kalau gimmick doank emang bisa buat ketawa? Ya, mungkin buat sebagian orang. Kalau buat stand up? Tunggu dulu. Materi CERDAS apa yang bisa buat orang ketawa kalau mau pakai gimmick goyang pantat? Bukan malah sebelumnya gara-gara goyang-goyang pantat buat orang ketawa, lalu udah seneng duluan waktu diminta ikut ajang stand up.

Memangnya Stand Up semudah itu? Memangnya Stand up sekadar goyang pantat aja?

Kalau pun disediakan waktu lima menit untuk stand up, terus sepanjang lima menit itu mau goyang pantat terus? Jatohnya jadi garing atau lucu itu?

Vini berpikir kembali kalau saja Si Omdo memakai otaknya untuk berpikir lebih jauh, setidaknya Si Omdo tidak terlalu menggampangkan segalanya, apalagi hanya bermodalkan nonton saja tanpa praktik lebih lanjut.

Vini memang tidak bisa stand up karena lebih nyaman hanya di ranah menulis dan tidak tampil di depan umum. Namun, kesamaan dalam mengolah ide membuat Vini agak iri dengan para komika yang berhasil meracik ide dan kata-kata tersebut menjadi materi CERDAS serta bahan tertawa penonton. Berbeda dengan Si Omdo yang membaca juga tidak suka, apalagi menulis, lalu bagaimana mau membuat materi CERDAS untuk stand up?

Sebenarnya sudah keliatan kalau omongan tentang mengikuti ajang Stand Up hanya ada di mulut doang tanpa praktik lebih lanjut seperti biasa.

Laganya aja yang nonton acara stand up hampir setiap hari waktu masih di channel fly fish, tapi omongannya selalu garing to the max.

Anyway, ada keinginan itu tidak dilarang ya. Baru “ingin” doank…

Vini mematikan TV. Pikirannya yang dari tadi melayang kemana-mana akhirnya selesai bersamaan dengan pengumuman siapa yang close-mic. Yang pasti, bukan Si Omdo. Di kehidupan nyata aja sudah close mic duluan.

Vini malah lebih menghargai orang-orang yang gagal tapi sudah berani mencoba dan masuk dalam komunitas serupa. Setidaknya mereka sudah pernah berlatih dengan bahan-bahan yang mereka punya, bukan sekadar gimmick semata.

Garing tapi lucu dengan bahan yang memang sudah dibuat dengan CERDAS atau memang sudah dipikirkan dengan matang ya bolehlah, tapi kalau akhirnya hanya ditimpal dengan “apaan sih?” untuk setiap jokes-nya, ya buat apa…

Bertahun-tahun lalu ada acara yang tak bertahan lama bernama “Jayus” di TV, nah mungkin cocoknya masuk ke situ.

Advertisements
Leave a comment »

Membaca Bersama IDN Times

Tubuhmu begitu halus. Goretan di seluruh tubuhmu begitu indah. Ada yang panjang, ada pula yang pendek. Sekali kusentuh bagian atasmu, kupenasaran untuk menyentuh bagian selanjutnya. Sekali kupandang permukaan luarmu, kupenasaran untuk mengubek-ubek isi dalamnya.

Bagian itulah yang kusukai dari situs IDN Times. Dari berbagai kategori yang disuguhkan, mataku sangat tertarik yang berhubungan dengan buku dan kepenulisan. Ya, dalam kategori Fiction, kontributor IDN Times menggelontorkan segala yang berhubungan dengan cerpen, puisi, buku, maupun cara menulis. Untung air liur ini tidak menetes.

Mungkin sudah ada beberapa buku yang diketahui tapi sisanya belum. Mungkin sudah ada beberapa penulis yang diketahui tapi sisanya belum. Tidak ketinggalan pula tulisan yang mengulas buku nasional atau internasional, begitu juga penulis nasional ataupun internasional.

Ada yang sudah tahu beberapa novel thriller terbaik tahun 2017? Dari beberapa yang disajikan, salah satu kontributor IDN Times menyebutkan judul The Book of Mirrors, atau diterjemahkan menjadi Cermin Muslihat. Dari ulasannya yang hanya empat baris, mataku tertarik pada kata ‘otak’. Pembunuhan dengan memanipulasi otak? Gimana ya seremnya? Seperti di penjara-penjara yang brutal saat menginvestigasi para terdakwakah?

 

 

 

 

Bagaimana dengan novel kriminal? Dari tiga buku yang dihidangkan dan salah satunya adalah penulis terkenal, namun hatiku menjatuhkan pilihan pada buku yang berjudul Deadly Little Secrets. Sepertinya jarang sekali aku menemukan genre kriminal di mana tokohnya adalah anak SMA. Berpikir seperti detektif Conan atau detektif Kindaichi? Sewaktu saya mencari lebih jauh lagi, buku yang dipublikasikan tahun 2012 ini sepertinya lebih berhubungan dengan polisi. Sementara itu, di pilihan judul buku lainnya ada premis yang mirip dengan film Hangout-nya Raditya Dika.

 

 

 

 

Wow, ada juga yang mengulas beberapa buku yang mengandung teori konspirasi. Dari sepuluh judul buku yang disebutkan, mungkin memang yang bertema Iluminati tidak lekang oleh waktu. Semenjak novel Dan Brown yang berjudul Da Vinci Code mewabah dengan teori iluminatinya, novel The Illuminatus! Trilogy yang terbit pada tahun 1975 menyuguhkannya dengan cara berbeda. Ada kata ‘humor’ yang diselipkan pada ulasan ini. Sehumor apa ya isinya?

 

 

 

Setelah yang tegang-tegang, mari menarik napas dahulu. Kita sampai pada novel terjemahan yang akan terbit di tahun 2018. Kontributor ini menuliskannya dalam dua artikel, yang berarti menyuguhkan dua belas judul. Semuanya sangat menarik. Kalau boleh, aku memilih dua di antaranya.

 

Karena mungkin bermarga sama denganku, aku cukup tertarik dengan novel Rich People Problems yang ditulis oleh Kevin Kwan. Bagaimana sih kehidupan orang-orang kaya di China? Ternyata novel ini lanjutan dari dua seri sebelumnya, dan dari novel pertamanya Crazy Rich Asians akan ditayangkan di bioskop.

 

Satu lagi adalah lanjutan dari tujuh novel seri sebelumnya. Sudah bisa menebak dong kalau membaca atau mendengar ‘tujuh novel berseri’? Ya, apa lagi kalau bukan Harry Potter yang ditulis oleh J.K Rowling? Kali ini bukunya berjudul Harry Potter and The Cursed Child mengisahkan Harry yang sudah berumur empat puluh tahun. Kebayang enggak sih kelanjutan bagaimana dengan anaknya? Apakah seperti judulnya yang ‘terkutuk’ itu?

 

Dalam situasi Indonesia yang memanas mengenai perbedaan, disarankan untuk membaca buku-buku dalam menghargai perbedaan. Kontributor memilihkan tujuh judul buku yang keseluruhannya adalah karya anak bangsa. Ada yang menceritakan perbedaan suku, bangsa, agama, maupun pendidikan.

Salah satu yang menarik perhatian ada novel Salah Asuhan. Bagi yang pernah mempelajari buku-buku dan penulis zaman dahulu, pasti tidak asing lagi dengan judul buku ini yang ditulis oleh Abdul Moeis serta penerbitnya, yakni Balai Pustaka. Bahkan nama penulisnya pun masih dengan ejaan lama. Coba tebak tahun terbit pertama kalinya! Apakah tahun 1928 pembaca sudah ada yang lahir? Novel ini menceritakan penikahan beda bangsa yang tidak disetujui.

 

 

 

 

 

Novel selanjutnya mengenai perbedaan adalah Burung-Burung Rantau karya Y.B Mangunwijaya. Bagaimana kalau dalam sebuah keluarga terdiri dari beberapa bangsa? Bahkan anak sulung di sini diceritakan sudah lama tinggal di Amerika, sehingga kebiasa-kebiasaan ala Amerika pun masih melekat. Bagaimana ya seorang ayah yang merupakan Letnan Jenderal di Indonesia ini bisa memahami keluarga yang berbeda-beda itu?

 

 

 

Ada buku, tentu saja ada penulisnya dong. Siapa saja ya yang akan merilis buku di tahun 2018 ini? Salah satu kontributor menuliskan beberapa penulis nasional dan internasional lho.
Dimulai dari penulis nasional yuk!

Siapa tak kenal Dee Lestari atau dikenal dengan sebutan Ibu Suri? Sudah sejak tahun lalu (2017), ia sudah membocorkan draft novel terbaru di media sosial miliknya. Draft tersebut bahkan sudah memperlihatkan judulnya, yakni Aroma Karsa. Dee mengajak pembaca berkeliling dunia dan merangsang indera penciuman. Hmm… gimana ya hasilnya?

Penulis selanjutnya adalah yang identik dengan Dilan. Siapa lagi kalau bukan Pidi Baiq atau dipanggil Surayah. Apakah Dilan ada novel serial selanjutnya selain Milea? Atau apakah novel selanjutnya akan terbit sesuai bocoran di kultwitnya mengenai Cika? Siapa Cika itu? Mungkin Pidi Baiq memang senang membuat kita penasaran.

Selain itu, ada juga Maudy Ayunda yang akan menelurkan buku keduanya berjudul A Forest of Fables berisi kumpulan dongeng, bekerja sama dengan Penerbit Bentang.
Ada juga Okky Madasari dengan judul novelnya Mata di Tanah Melus.

Ada penulis internasional yang akan merilis dua novel sekaligus di tahun 2018. Wow! Siapakah dia? George R.R. Martin mengisyaratkan akan menerbitkan dua buku Game of Thrones lho. Bagaimana ya kelanjutan isi bukunya?

Kemudian ada pula Victoria Aveyard yang merilis buku ke empat berjudul War Storm yang merupakan serial dari Red Queen. Buku ini bahkan mendapat gelar “#1 New York Times bestselling”.

 

Untuk menutup artikel ini, saya akan menyisipkan sedikit ulasan mengenai salah satu cerpen yang berjudul Keluarga Pendiam. Judulnya sederhana banget tapi cukup menarik perhatianku. Melihat dari kata ‘pendiam’, kukira terjadi karena faktor internal. Atau memang ada sisi introver. Ternyata, di luar dugaan, hal ini terjadi karena isu yang sedang terjadi. Entah aku salah atau tidak dalam hal menanggapi cerpen ini, aku merasa cerpen ini menyindir suatu isu dengan cara yang sangat halus. Mungkin ‘Silent is Gold’ pantas disandang untuk inti dari cerpen ini.

 

Begitulah sekelumit hal yang kusuka dari IDN Times.

Mau banyak pengetahuan? Baca IDN Times saja…

Leave a comment »

Kejutan di Subuh Buta

Pagi yang dingin. Di dalam mobil ia memegang tangan kananku erat. Hangatnya begitu merasuki jiwa. Rasa nyaman yang tak pernah kudapati sebelumnya. Lagu itu pun masih mengiringi perjalanan kita. 

———-

我为你心跳 我为你祈祷
Wo wei ni xin tiao, wo wei ni qi dao
My heart beats for you, and i pray for you.
因为爱让我们能遇到
Yin wei ai rang wo men neng yu dao
It is because love let us meet
因为你开始燃烧 痛才慢慢治疗
Yin wei ni kai shi ran shao, tong cai man man zhi liao
It is because you passion is starting to burn now, the pain is slowly cured
我要和你拥抱 牵你的手一起去奔跑
Wo yao he ni yong bao, qian ni shou yi qi qu ben pao
I want to embrace you, hold you hand and run together with you.
你存在的这一秒 会不会是我依靠
Ni cun zai de zhe yi miao, hui bu hui shi wo yi kao
This second that you exist in, will it be my support?

 
给我的微笑 全都记在脑海了
Gei wo de wei xiao, quan dou ji zai nao hai li le

The smile you gave me, it is all saved in my mind

变成快乐的符号

Bian cheng kuai le de fu hao

It is a symbol of happiness.

节奏在跳跃 这是恋爱的预兆

Jie zou zai tiao yue, zhe shi lian ai de yu zhao

The rhythm is leaping. It is a symptom of falling in love.

挑动我每一个细胞

Tiao dong wo mei yi ge xi bao

It provokes every cells of mine.

天亮才睡觉 让我思绪都颠倒
Tian liang cai shui jiao, rang wo si xu dian dao
I will only sleep at daylight,  it reverse my thoughts.
这次我不想放掉
Zhe ci wo bu xiang fang diao
This time, i don’t want to let go.
防备全关掉 只许你无理取闹
Fang bei quan guan diao, zhi xu ni wu li qu nao
All my defences will be switched off, i allow you to be unreasonable
慢慢走近你的步调
Man man zou jin ni de bu diao
I will get closer to your pace

心也一层一层被你融掉

Xin ye yi ceng yi ceng bei ni rong diao
You melt my heart, layer by layer
一天一天为你开窍
Yi tian yi tian wei ni kai qiao
Day after day, i became better because if you.
一秒一秒想你的微笑

Yi miao yi miao xiang ni de wei xiao

Every second, i am thinking of your smile

——–

Lagu itu? Dari mana ada lagu itu? Lagu yang telah kupakai menjadi ringtone whatsapp khusus. Khusus untuk satu orang. Dia.

Tiba-tiba ada sosok muncul, melongokkan kepalanya dari balik pintu. Mataku terbelalak. Dia!

Subuh-subuh buta begini ngapain coba? Dia duduk di samping tempat tidur dengan ponsel yang masih mengumandangkan lagu 因你而在 dari JJ Lin.

“Kamu pernah pakai lagu ini untuk ringtone whatsapp dariku kan?” tanyanya sambil menatapku.

“Darimana kamu tahu?” balik tanyaku penasaran.

“Engga penting aku tahu darimana. Yang penting sekarang giliranku yang memakai lagu ini untuk semua notifikasi darimu.”

Aku masih terdiam. Antara masih ngantuk dan terkejut.

“Sori ganggu ya. Sekarang kamu siap-siap sana. Aku udah izin ke mamamu untuk ke Karmel (Gereja Karmel di Lembang, Bandung).”

Sudah dibangunkan subuh-subuh, terus tiba-tiba disuruh langsung siap-siap. Aku menjatuhkan diri kembali di kasur dan menutup seluruh tubuhku dengan selimut.

“Hey! Bandel ya…, ” ujarnya sambil menarik selimutku dan mendorongku sampai keluar tempat tidur. Menjengkelkan banget.

“Mandi dulu ya, Darling…, ” katanya sambil tersenyum memaksaku untuk mandi.

Ah… Seperti lagu tadi, senyumnya memang menjadi simbol kebahagiaanku.

#nulisrandom2017 dari nulisbuku

Leave a comment »

Biarkan Saat Kami Sah… 

Tangan kanannya mengelus pelan punggung tangan kananku. 

Duduk di bawah pohon tua yang rindang di tengah hutan lindung membuat kami agak terkantuk-kantuk. 

Kepalaku bersender pada bahunya. Sudah ingin tidur saja, tapi kutahan supaya tidak ke alam mimpi. Rasa kantuk ini seperti berantem dengan angin sepoi-sepoi yang hilir mudik tanpa ampun. 

“Engga lama lagi, ada sesuatu yang akan tambah di jarimu sebelah sini,” bisiknya dengan suara khas pria. 

Aku menanggapinya hanya dengan sunggingan bibir. Sulit dipercaya akhirnya dia memuntahkan kata-kata itu. Kucubit pipinya karena gemas. Eh, dia malah balas mencubit juga. Terjadilah perang cubitan selama… beberapa detik. 

Kemudian ia mengelus-elus pipiku yang dicubit olehnya. Eh, tiba-tiba malah mencium keningku sambil memelukku erat. Engga mau pisah tampaknya. Badannya yang hangat membuatku sangat nyaman berada di dekatnya. 

Hari masih sore. Sinar matahari yang sebentar lagi beranjak dari peraduannya menembus celah-celah daun pepohonan. Cukup silau. 

Saat aku kembali ke posisi duduk semula dengan elegan ia menampilkan telapak tangannya di depan mukaku. 

Ahhh… Andaikan waktu berhenti sesaat. Membiarkan kami sejenak berduaan tanpa mengenal waktu. Tanpa diganggu juga oleh ponsel, bahkan media sosial. 

Biarkan saat kami sah dunia baru mengetahuinya. 

#nulisrandom2017 dari nulisbuku

Leave a comment »

Akhirnya Tunangan Juga

Tangannya diangkat, kukira akan memukul, ternyata dia membelai rambutku.

“Besok makan siang bareng ya, aku jemput,” katanya lembut. Aku menjawab dengan senyuman. 

Yup, akhirnya dijemput. Tapi kenapa serumah semua dibawa? Dikira kan berdua ya. Lihat semobil penuh rasa bete sudah merasuki jiwa. Tapi sunggingan senyum harus tetap dipaksakan supaya tak dikira jutek oleh keluarganya. Sebenarnya juga tambah tak enak sewaktu aku duduk di kursi penumpang depan menemaninya sebagai supir saat itu. 

Ternyata boro-boro makan siang. Kami turun di villa Lembang yang dingin-dingin empuk. Ia tak bicara juga tentang menginap. Jadi… Memang tak menginap kan? Owh, maap, setelah turun aku langsung diajak dahulu ke ruang makan untuk bersantap ria. 

Kemudian hal yang membuat dag-dig-dur terjadi. Ia memegang tanganku, menyeretku ke depan keluarganya, merangkulku supaya tenang, lalu berbicara…

“Ma, Pa, Kak… Ini… Calon… ”

“Calon istri? Selamat ya, Han.” Kakak laki-lakinya memotong. Bagaikan gledek menyambar jantungku. Aku pun langsung menatap Han meminta kepastian. 

“Bukan, Kak! Dia calon pembantuku…” Terpotong. Kenapa? Diam. Sambil memandangku. Di depan keluarga gini siapa yang grogi coba. Apalagi yang buat kesal itu jawabannya itu lho. 

“…yang setia. Menemaniku terus. Sampai akhir hayat,” lanjutnya, masih sambil memandangku, sampai aku salting tujuh keliling. 

“Engga harus ‘pembantu’ kan,” bisikku sambil mencubit pinggangnya. 

“Aw… Ya… Begitulah Ma, Pa, Kak. Semoga dia diterima di sisi… Maksud saya, kehadirannya diterima di keluarga ini.”

Mulai ngaco. Tapi, sebelum aku mulai protes lagi. Ia mulai mencium keningku, turun ke hidung… Turun ke… Tangan… 

Tara… Bukan sulap bukan sihir. Setelah selesai adegan menciumnya, tiba-tiba ada sebuah cincin nyantol di jari manisku yang memang sudah manis ini. 

Setelah dua tahun kami menjalin kasih… (Lagu romantis berkumandang) 

Setelah suka duka kami lewati… 

Setelah badai menerjang.. (Owh maap, harusnya “walau badai menghadang”)

Cinta kami akhirnya tersatukan… 

“Cincinnya bagus kan, Ma?” ujarnya tanpa rasa bersalah. Mencopot kembali cincin dari jariku lalu memberikan pada mamanya. 

Aku yang sudah melayang tiba-tiba dijatuhkan kembali. Untung ga loncat jingkrak-jingkrakan. Mau ditaruh di mana mukaku? 

Aku yang malu pun keluar rumah, eh…  villa. 

Seperti di sinetron saja, ada adegan grab wrist dan membalikkan badanku. 

“Sayang, sori,” ucapnya lembut sambil memegang kedua pundakku erat. Namun, tatapanku masih penuh amarah. 

Salah satu lutut ditekuk. Dan satunya lagi dibiarkan memanjang di tanah. Ia mengeluarkan cincin lain dari kantongnya. 

Tidak ada basa-basi dulu, langsung saja nyelonong mengambil tangan kiriku dan menyematkan cincin itu di… Oke… Sementara di jari tengah karena ternyata dia membelinya agak kebesaran dikit. 

Karena katanya dia beli dari temannya, jadi bebas mau tukar kapan saja. Asal udah bayar juga sih. 

Dua hari telah berlalu sejak kejadian itu. 

Well, let’s see tomorrow for the new ring. 😊

#nulisrandom2017 dari nulisbuku 

Leave a comment »

Sok Tau Bujubuneng (5/edisi Valz/end)

Akhirnya petang telah tiba. Setelah diajak makan malam bersama, Rani pamit pulang.

Sewaktu Rani masih beberes barangnya di kamar Adel, Adel bertanya tentang bagaimana ia bisa sampai ke rumahnya dengan mudah.

“Kan gua udah bilang pake GPS,” jawab Rani sambil memasukkan laptop ke tas ranselnya.

“Engga buta peta kalau belum pernah ke TKPnya?” Adel sambil membantu membereskan alat tulis Rani yang sedikit berserakan di meja kamarnya

“Kan sekarang ada Google View, jadi bisa gampang lihat sekelilingnya ada apa aja,” kata Rani menjelaskan dan mulai mengeluarkan ponselnya untuk memberitahukan tentang Google View.

“Owh, iya iya,” kata Adel sambil melihat sekilas, “gua lupa.” Kemudian nyengir kuda lagi.

“Untung ya, jadi lu ga muter-muter habisin waktu,” kata Adel.

Lalu sewaktu dekat pagar sebelum keluar rumah, Adel meneruskan, “Masa mantannya temen gua ini sok tau banget. Udah tau berjuta-juta tahun belum pernah lagi lewat suatu jalan, terus sok-sokan engga mau dibantu lewat GPS. Jadilah muter-muter di tempat yang sama sampai tiga kali. Ya, temen gua yang mau makan jadi keburu pusing.”

“Haha… lebay lu berjuta-juta tahun,” tanggap Rani dengan santai sambil melewati pagar, kemudian pulang bersama mobilnya.

Setelah Rani berlalu, Adel kembali memasuki rumahnya dan memeriksa ponselnya. Temannya yang dari kemarin tak habis-habisnya curhat tentang mantannya itu sekarang sedikit bercerita tentang aplikasi chatting mantannya itu.

Temen : “Bukannya gua stalking ya, cuma di timeline gua yang dulu ada tag ke dia jadinya bertuliskan ‘unknown’. Terus ternyata dia emang ubah IDnya. Gua jadi berpikir aja, ‘katanya engga akan pernah ubah-ubah kontak biar gampang urusan pekerjaan. Lha sekarang apa? Jilat ludah sendiri? Kayak cemen ya…’”

Adel : “Ya mungkin kontak yang dia maksud itu nomor teleponnya aja kali. Lu juga pasti ngertilah kenapa dia akhirnya ubah ID.”

Temen : “Iya sih, gua ngerti. Tapi kayak cemen gitu keliatannya. Gua aja kagak ngubah.”

Adel : “Ya udahlah… Ngapain dipikirin lagi. Hari ini Valentine-an jadi makan bareng kan?”

Temen : “Kata lu mau nyemil-nyemil aja… Jadi sama si Ucok en Baba juga?”

Adel : “Iye… gua jemput sekarang ya. Mereka mah nanti ketemuan di TKP.”

sumber: WIB Net.TV

sumber: WIB Net.TV

Leave a comment »