Depzkwan's Blog

My Life's Passion

Everyday is Special Day

Today is March 24th 2015.

I don’t know why, but I felt like every single time was so wonderful.

At the dawn, ketua divisi kepanitian acara gereja minta gua untuk memegang peranan tertentu. Well, I felt like he gave that job coz he do trust me. I was so thankful.

After a while, I just realized that I and my sister forgot to make my mother surprise. Yes, today is my mom’s birthday. But, I continued my sleeping. Then, in the morning we gave her a tart and some presents.

image

Lalu, waktu sampai di kantor gua, lumayan ribet dengan persiapan pembukaan cafe (meskipun divisi gua adalah Yang bagian klinik kesehatan).
Yup, jadi klinik kesehatan ini menawarkan makanan sehat.
Jam 8 lebih mulai kumpul dari semua divisi dan mulai doa pembukaan, dilanjutkan dengan makan nasi kuning.
I kept it for lunch. Hihihi.

image

Kemudian waktu sore hari, agak ribet lagi dengan persiapan kelas terapi karena pesertanya dari suatu perusahaan, yang berarti jumlahnya jauh melampaui dari yang biasanya.
Tapi, karena hal itu, isi materi yang dibawakan dokter pun jadi beragam dan ada bagian yang agak beda dari yang biasanya.
Well, just have fun.

Sebelum pulang, mulut rasanya pengen minum yang dingin-dingin. Jadinya gua beli jus dari kafe yang harganya agak menguras dompet untuk ukuran minuman. But, Hhmmm… it was so fresh.

Kemudian dijemput adikku juga agak telat karena setelah adikku pulang kerja langsung antar mom ke gereja dulu. Gua antara pengen pulang cepet dan pengen dijemput. Tapi akhirnya gua nunggu untuk dijemput.

Well… I was just enjoy the moment. Just happy for doing anything.
I myself felt weird, why can I do this all  thing in the same day?

I hope everyday is special day.

Sometimes it’s hard, but if you feel relax and not too many thought what happened next, your heart and your mind can help decide what you really can do.

I’m also still learning every single day.

Keep praying.
Keep surrender to God.
Be grateful.
Keep smiling.
O(∩_∩)O

Leave a comment »

Ulasan Kumcer Little Stories

Cover Little Stories

Cover Little Stories

Akhirnya aku nulis ulasan kumpulan cerpen (kumcer) yang ditulis salah satu temanku, Adeste Adipriyanti, yang terbit tahun 2014 lalu. Namun, jangan salah. Kumcer ini dibuat dengan konsep yang matang selama kurang lebih satu tahun oleh Deste, dkk. Yup, bukan hanya Deste seorang, tapi dengan teman-teman yang dipertemukan dalam 1 proyek yang dinamakan Lotus Creative Project.

It seemed to be fun, kalau dilihat dari konsepnya. It was so great.

Kumpulan cerpen ini menyuguhkan 4 tema, di mana masing-masing penulis diharuskan bercerita sesuai tema yang didapat:

1. Tema Kuliner. Hmm… dilihat dari temanya sudah pasti tentang makanan ya. Yup, para pembaca bisa melihat lima judul berbagai nama kuliner yang mungkin malah sebagian besar dari pembaca tidak atau belum tahu nama-nama kuliner tersebut, diantaranya yang berjudul “Gohu Buat Ina”by Vera Mensana dan “Brongkos Mertua” by “Adeste Adipriyanti”. “Gohu” ato “Gehu”? Well, baca saja sendiri. Hihi… Kalau dikira isi dari tema ini hanya tentang makanan saja, itu salah besar sekali. Karena tiap cerita boleh bertema apa saja asal tidak menghilangkan sisi kuliner dari keseluruhan tiap ceritanya.

Penasaran? Ssslllrrrppp…

2. Tema Prompter. Prompter? Seperti istilah di tipi-tipi itu ya? Yup, salah satu persamaannya adalah setiap penulis diberikan pilihan 2 kalimat awalan. Perbedaannya, setelah memilih, penulis melanjutkan dengan ide ceritanya masing-masing. Salah dua judul yang mengambil kata dari kalimat prompter tersebut adalah”Pisau” by Rieke Saraswati dan “Lemparkan Saja ke Sungai”by “Vera Mensana”.

Bisa mengira-ngira apa 2 kalimat prompter pilihan tersebut?

3. Tema Demonstrasi Demo masak? Demo karyawan? Demo pemerintah? Atau demo lainnya.

Sama seperti tema kuliner, penulis diberikan tema ini dan bebas menuangkan ide ceritanya tanpa harus menjadikan ‘demonstrasi’ adegan utamanya, asal tidak kehilangan esensi tema itu dalam keseluruhan ceritanya.

Salah satu karakter yang dibuat judul adalah “Aparat” by Faye Yolody.

4. Tema Bebas Yup, bebas. Penulis tidak dibebankan tema tertentu, tentu saja. Rinrin Indrianie membuka tema bebas ini dengan judul “Nama untuk Raka” dengan ide cerita yang sama sekali tidak terpikirkan banyak orang, Bisa dikatakan berhubungan dengan mental seseorang.

Bagaimana dengan genre-genre yang diusung? Well, semua genre yang pembaca tau jadi satu di buku ini. Jadi pembaca ga akan bosan dengan cheesy love or something like that.

Untuk saya pribadi, saya sendiri jarang melihat satu proyek kumcer yang sehebat ini.

Keep writing buat semua penulis. \^.^/ Selamat membaca bagi yang belum, sedang, atau akan membacanya.

Untuk selengkapnya, bisa lihat lewat link GPU dan YouTube.

1 Comment »