Depzkwan's Blog

My Life's Passion

Ulasan Novel ‘Laskar Pelangi’

on June 3, 2014
cover laskar pelangi 1 (terbit 2005)

cover laskar pelangi 1
(terbit 2005)

poster fim dan cover novel laskar pelangi setelah film 2008

poster fim sekaligus cover novel laskar pelangi setelah film 2008

 

Mungkin saya tidak harus menjelaskan secara detil bagaimana isinya karena ini adalah novel lama dan beberapa tahun silam banyak digembar-gemborkan di berbagai media cetak maupun elektronik.

Novel ini pun baru saya baca beberapa tahun lalu di saat masa gembar-gembor sudah lewat, antara filmnya belum dan sudah dirilis. Apa yang saya rasakan saat membaca novel ini adalah sama dengan seseorang yang mengirimkan artikel tentang novel ini pada Harian Pikiran Rakyat (sayangnya saya lupa siapa dan kapan persisnya ada di Harian tersebut). Bahkan mungkin dia adalah satu-satunya orang yang saya dapati artikelnya di media yang membicarakan hal-hal berbeda dengan yang ditayangkan media .

Apakah hal-hal tersebut?

1. berusaha membuka lembar demi lembar supaya bisa membacanya sampai lembar terakhir.

Saya lupa orang tersebut membaca berapa lama. Saya sendiri membaca sekitar 2 tahun dengan banyak waktu yang bolong.

2. bahasanya yang high / tinggi

Bagi saya yang sudah membaca, banyak sekali perumpamaan-perumpamaan yang tidak dimengerti karena penggunaan istilah yang bukannya memberi kesan cerdas, tapi memberi kesan angkuh. Glossary yang diletakkan di akhir cerita tidak terlalu membantu.

 

Saya lupa apa saja yang ia kritik. Selain kesamaan hal di atas, ada 1 atau 2 bab yang menurut saya tidak begitu penting untuk diceritakan tentang Belitung. Cerita tentang Belitung hanya mengisahkan tentang rakyat jelata dan pengusaha yang tidak ada hubungannya dengan tokoh dan jalan cerita yang ada.

Yah, jika mengikuti tayangan berbagai media pada saat itu pasti banyak yang melihat kesaksian yang sudah membaca novel ini, di mana mereka bisa tertawa dan menangis. Namun, bagi saya, saya tidak menemukan bagian mana yang bisa membuat saya tertawa atau bagian mana yang bisa membuat saya menangis. Cuma capek dan jengah yang ada.

Terlalu banyak deskripsi malah membuat tidak bisa terlalu membayangkan dan berimajinasi apa yang terjadi di dalam cerita tersebut.

Dan setelah selesai membaca, saya hanya berpikir, “Udah? Gini doank? Bagian mana yang orang lain bisa tertawa dan menangis?”

 

Setelah saya tilik lagi, ternyata pendapat saya ini tidak sendirian. Beberapa orang yang review di http://www.goodreads.com/book/show/1362193.Laskar_Pelangi sini pun ada yang menjelaskan kritik mereka dengan lebih detail daripada saya.

 

Filmnya? Jangan tanya. Saya belum menontonnya.

 

NB: Saya hanya kebetulan bisa membaca novel ini karena ini adalah kado ultah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: