Depzkwan's Blog

My Life's Passion

Ulasan Novel dan Film ‘Perfume’

on June 3, 2014

Apa yang ada di benak kalian jika mendengar kata perfume atau parfum? Wangi? Harum semerbak bagaikan bunga di taman, kini layu di tangan, Kumbang tiada belas kasihan? Oke, sori, stop singing.

Namun, jangan salah dengan Parfum yang satu ini. Parfum bukan sembarang parfum. Bagaimana perasaanmu jika parfum yang kamu kenakan sekarang adalah hasil dari 25 gadis perawan?

Bagaimana caranya? Tanyakan saja pada pembunuh di cerita ini.

 

novel Perfume 1st edition di Jerman

novel Perfume
1st edition di Jerman

novel Perfume

novel Perfume

Cover novel Perfume

Cover novel Perfume

 

 

Dari segi terjemahan novel ini menurut saya bagus sekali karena sewaktu membacanya pun terasa mengalir.

Namun, novel yang bertuliskan ‘Murderer’ di cover halaman depan ini membuat espektasi saya terhadap pembunuhan itu sendiri lebih besar daripada bagaimana parfum itu dibuat. Sayangnya, detail pembunuhan di sini tidak dibeberkan begitu jelas di setiap 25 gadis yang dibunuhnya. Yang saya dapat malah seringnya cerita dalam pembuatan parfum dari berbagai tumbuhan dan bagaimana dia menghindari masyarakat yang curiga akan korban yang sering berjatuhan, dan hampir tidak ada tuduhan yang ditujukan padanya. Untuk detail pembunuhan hanya terdapat di sekitar 2 perawan saja.

Menurut saya malah untuk murdernya itu sendiri sekitar 10-15% dari keseluruhan cerita. Sedangkan sisanya kebanyakan tentang proses pembuatan parfum itu sendiri. Proposisinya kurang seimbang.

 

Poster film Perfume

Poster film Perfume

Cerita ini pun diadaptasi ke dalam film yang ditayangkan September 2006. Di film ini terdapat esensi yang menyimpang dari isi novel aslinya. Yah, mungkin bisa dimaklumi karena memang seringkali film mengandalkan efek dan visualisasi untuk menarik hati penonton. Namun, untuk saya yang sudah membaca novelnya, menjadi aneh saat salah satu adegan ini ditayangkan. Adegan berhubungan intim malah mematahkan isi cerita itu sendiri. Dari cerita aslinya sang pembunuh sendiri tidak akan berhubungan intim dengan calon korbannya karena ia membutuhkan perempuan yang masih perawan. Di akhir film pun, entah klimaks atau antiklimaks (oke, maap, karena saya menontonnya dipercepat) jatuhnya malah seperti horor thriller. Sementara yang saya dapat di akhir novel adalah perjuangan sang pembunuh yang sudah usai tanpa ada embel-embel horor thriller sama sekali. Meskipun sebenarnya tertera genre novelnya di wikipedia, tapi yang bagi saya cocok adalah genre absurd.

Karena ini novel keluaran 1985 (lalu diterjemahkan ke bahasa Inggris tahun 1987, diterbitkan di Indonesia Juni 2006), jadi pasti sudah banyak yang membacanya bahkan sudah ada yang menonton filmnya. Ini hanyalah dari sisi pandang saya, masih ada pembaca dan penonton yang memuji isi ceritanya. Bahkan novel ini mendapatkan World Fantasy Award for Best Novel.

 

rating novel:

4.5/5Barnes & Noble

rating film:

7.5/10IMDb
Rating dari saya lebih kecil dari rating-rating tersebut.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: