Depzkwan's Blog

My Life's Passion

My Café – Killer Toon

Oke, apa hubungannya?

poster Killer Toon

poster Killer Toon

Killer Toon” adalah sebuah film asal Korea Selatan yang dirilis di Negara asalnya pada Juni 2013. Menurut IMDB, film ini bergenre crime, thriller, dan horror. Saya sendiri sudah menontonnya hingga selesai. Saya tidak akan membahas penuh tentang filmnya. Saya hanya akan mengatakan sekitar setengah jam pertama film yang masuk ke dalam benak penonton, termasuk saya. Setengah jam pertama yang sebenarnya belum menunjukkan ending yang pasti. Namun, setengah jam ini cukup untuk melayangkan ingatanku pada cerpenku sebelumnya yang mungkin kurang lebih sama dalam implementasinya.

Pernah dengar pepatah “omonganmu harimaumu”?

Yah, mungkin cerita yang disampaikan seseorang itu bisa jadi merupakan perwakilan omongan sang pencerita, meskipun belum tentu sepenuhnya juga benar.

Di setengah jam pertama film tersebut plot cerita menghantarkan penonton pada kesimpulan bahwa apa yang digambarkan oleh ilustrasi komik itu ternyata terjadi di kehidupan nyata. Yang mengenaskannya adalah semua ilustrasi itu adalah kejadian pembunuhan yang tak jelas siapa pembunuhnya. Cukup sampai di sini penjelasannya. Ini belum sampai tahap spoiler inti film ini karena yang dibutuhkan dalam tulisan ini hanyalah tentang cerita yang ternyata terjadi di kehidupan nyata.

Begitupula dengan cerita yang pernah saya buat kebetulan bergenre sama, yakni misteri, tapi ceritanya lebih ke arah romantisme. Bedanya yang saya maksud kali ini adalah bukan plot cerita yang sama dengan kejadian nyata, melainkan tempat yang saya karang di sini ternyata akhirnya ada di kejadian nyata.

Ah ya, dan di dalam cerita saya ini juga ngarang nama cowo yang ternyata adalah nama cewe. Well, itu karena saya ga tau dan memang saya ambil dari nama tengah artis cowo yang waktu saya suka. Hahaha… Baru tau kalau itu adalah nama cewe saat membaca novel penulis lain.

Berikut adalah cerpen yang saya buat pada Oktober 2006 dengan judul:

CERMIN MISTIK

“Hey! Hey! Wait!”, kataku berusaha memberhentikan langkah Upit di depan rumahku setelah ia menyerocos hal-hal yang sebenarnya pura-pura tak kuketahui. “Ini surat Luciola ketinggalan,” lanjutku sambil menyerahkan surat itu.

Upit, murid cowok baru di sekolahku yang seorang aktor itu mengambilnya lalu dilemparnya pada mukaku, “Ga usah bo’ong!”, teriaknya meskipun tidak terlalu keras, “physically memang Ola yang kasih gua, tapi jiwanya sebenarnya lu kan yang kasih gua?”

Mataku terbelalak tak percaya bahwa ia sungguh-sungguh tahu apa yang terjadi.

“Aku tak sengaja”, kataku datar yang meluncur begitu saja dari bibir ini. Aku mau menjelaskan keseluruhannya tetapi seluruh tubuhku begitu kaku di depannya hingga dia pergi meninggalkanku.

Meninggalkanku tanpa melihat kembali padaku. Bersama motornya pun makin lama makin menghilang dari pandanganku. Di depan teras rumah aku duduk sendiri memikirkan perbuatanku sebelumnya. Apakah aku salah? Apakah aku benar? Tapi, jika tindakanku itu benar, tidak mungkin Ola dan Upit sekarang memusuhiku.
*

Waktu itu…

“La, udah lihat si Ola belum?”, tanya Leyni tiba-tiba saat aku sedang duduk sendiri di kelas.

“Emang ada yang salah dengan Ola?”, balik tanyaku.

“Mm… Gua ga tau ini namanya salah apa ga, tapi sejak naik ke kelas 1 SMA ini dia berubah penampilan, penampilannya ga banget deh untuk ukuran seumur kita.”

“Memang penampilannya seperti apa?”

“Waduh… gimana ya… Seperti dibuat-buat untuk MPC”

“MPC?”

“Menarik Perhatian Cowo. Lu ngerti kan masksud gua?”

“Oo ya… sepertinya begitu,” kataku sekenanya sambil menerawang penampilan Ola terbaru untuk MPC.

Tak lama kemudian, bel tanda pelajaran pertama dimulai berbunyi. Leyni balik ke tempat duduknya semula dan aku kembali sendirian. Tiba-tiba ada seorang gadis terengah-engah duduk di sampingku. Benar-benar berbeda.

Sorry, kemaren gua ga masuk, sekarang ga ada PR kan?”, tanya Ola.

“Oo… ga ada koq,” jawabku datar.

Sejak SMP aku tak begitu kenal dengan dia, jadi sepanjang pelajaran kami mengobrol hanya seperlunya saja. Dilihat dari penampilan dan cara berbicaranya aku sudah merasa tidak cocok berteman dengannya karena aku sendiri seorang pendiam. Bukan bermaksud untuk memilih-milih teman tapi hati orang siapa tahu. Aku juga tidak tahu bagaimana tanggapan Ola akan aku. Tapi setelah beberapa minggu kami duduk bareng dan mengobrol, pendapatku itu makin lama makin tertepis juga. Kami akhirnya cocok berteman dengan seringnya mengobrol tentang cowo. Apa yang disukai atau yang tidak disukai dari cowo, atau tipe-tipe cowo ideal masing-masing. Hingga suatu hari kelas kami kedatangan siswa baru seorang aktor tampan. Ola, dengan pe-de-nya berkata bahwa ia akan habis-habisan mengejar cowo itu. Aku tersenyum tersungging. Sudah lama juga aku suka dengan cowo yang satu ini.

Saat istirahat, Ola sudah mendekati cowo yang bernama Upit itu dengan beribu macam gaya rayuannya. Agar tidak muntah, aku menghindar melihatnya dan bergabung bersama teman yang lain.

“La, lu ga terpengaruh kan sama sifatnya yang urakan itu?”, tanya Leyni sambil menghirup soft drink kesukaannya dan disertai oleh anggukan teman lainnya.

Aku hanya tersenyum menanggapinya dan balik bertanya lagi, “menurut kalian, selama beberapa minggu ini sifat gua ada yang berubah ga atau minimal, kata lu, Leyni, terpengaruh sama gaya urakannya Ola?”

Semua saling memandang dan jawaban dengan gelengan kepala pun akhirnya pun bergerak dari kepala masing-masing temanku itu. “Nah! Tuh, udah tau sendiri jawabannya,“ kataku lagi menganggapnya enteng sambil makan bekalku.

Selama beberapa hari, Ola masih asyik merayu Upit. Dengan cara apapun ia lakukan untuk mendekati Upit sedangkan Upit sendiri acuh tak acuh dengan sikapnya itu. Aku sendiri hanya tersenyum jika bertemu dengan Upit. Di waktu senggang jika tak ada Ola, kami juga sering mengobrol terutama pekerjaannya yang sebagai aktor, bagaimana ia belajar banyak tantangan di sana. Aku pun jadi belajar tentang kehidupan dari dia. Makin lama makin bertambah minggu dan bulan pun skala kekagumanku akan dia bertambah hingga 99,99 persen. Sulit dipercaya.

Suatu hari, Ola memutuskan untuk belajar di rumahku untuk mengejar ketinggalannya karena ada beberapa hari yang ia putuskan untuk tidak masuk, entah itu alasannya karena sakit atau ada urusan keluarga. Kemudian, di sore itu pun kami mulai belajar bareng.

Tiba-tiba Ola merasa panggilan alam menantikannya, kemudian ia izin untuk ke kamar mandi. Saat ia berada di kamar mandi, aku sengaja bebenah kamar sebentar agar tak terlihat begitu berantakan.

Tiba-tiba saja ada suatu cermin kecil seperti cermin zaman dulu yang terselip di ujung bawah kasur tidurku. Aku kira, cermin itu adalah hadiah dari ibuku untuk kejutan, maka aku menggunakannya sesaat. Tapi sayangnya entah kenapa, saat aku menggunakannya, saat itu pula Ola sudah masuk lagi ke kamar, dan sesuatu yang aneh terjadi. Kami berdua pingsan.

Saat aku terbangun, jiwaku sudah ada di tubuh Ola dan begitu pula jiwa Ola yang di tubuhku. Aku pikir untuk membalikkan jiwa kami lagi pada tubuh masing-masing, satu-satunya cara adalah dengan mempergunakan cermin itu lagi, dan… cermin itu hilang. Tak berbekas dan tak berjejak. Aku begitu frustasi.

Selama beberapa jam, Ola tak bangun juga. Maka aku pindahkan saja ke atas kasurku dan aku yang berada di tubuh Ola pun memikirkan cara agar tak ketahuan oleh siapapun. Yap! Aku bergegas mencari dompet Ola dan… nomor telepon rumah. Kutelepon rumah Ola dan meminta izin untuk menginap selama 5 hari untuk mengejar ketinggalan pelajaran bersama Gricela. Jawaban yang terdengar dari mamanya itu cukup berbelit-belit hingga akhirnya keputusannya adalah… diizinkan. Fiuh! Leganya…

Tapi tak semudah itu. Aku melihat kertas yang terselip di buku-buku pelajarannya dan tak sengaja membacanya. My God! Dia ada janji dengan Upit besok untuk makan malam di sebuah kafe romantis. Semua akal kupakai, bagaimana Upit besok dapat mempercayaiku sebagai Ola tapi dengan gaya paduan antara aku dan Ola. Di rumah, aku yang di tubuh Ola menyiasati berbagai cara agar Ola yang di tubuhku tidak ketahuan oleh orang rumah bahwa dia tidak bangun dari pingsannya, entah dari tidurnya.

Esok hari pun tiba. Beruntung awalnya mereka janjian bertemu di kafe tersebut tidak saling menjemput, hingga aku hanya bersiap-siap pakaian paduan ala aku dan Ola. Entah pakaian yang sekarang aku kenakan ala Ola atau aku, baju tank top ku selubungi dengan syal putih dan celana jeans selutut.

My Cafe. Aku tiba. Dering ponsel Ola yang kubawa berdering.

“Ola! Gua sudah sampai. Lu di mana?”, suara Upit diseberang sana.

“Oo… gua juga sudah sampai koq, lagi nyari kamu nih.”

“Ya udah, kalau begitu dari pintu masuk lu jalan ke sebelah kiri, gua ada di pojok.” “Ok!”

Sejenak ku menghirup udara malam kemudian melangkahkan kaki. Langkah demi langkah melaju mempercepat degup jantung. Sampai di depan pintu masuk, pelayan pria membukakan pintu, ganteng juga pikirku. Eh! Bukan waktunya untuk memikirkan hal lain. Aku bergegas ke arah yang diberitahu Upit tadi. Dari jauh, kami sudah saling tersenyum. Upit dengan gayanya yang sederhana tapi menarik perhatian membuatku semakin suka padanya.

“Hai!”, katanya sambil menggeser kursi untukku.

“Hai!”, kataku dengan gaya Ola yang sering kulihat jika menyapa Upit.

Kemudian kami memesan makanan. Karena ku tak tahu makanan kesukaan Ola, aku memesan makanan yang ku suka.

“Lho! Biasanya lu pesen beef cordon bleu?”, tanya Upit yang mengagetkanku, membuatku berpikir kembali bahwa sebelumnya dia dan Ola asli sering dinner bareng.

“Sedang ingin mencoba makanan lain koq,” kataku dengan tersenyum tapi harap-harap cemas di balik hati ini. Terlihat dari paras wajah Upit yang merasa keanehan pada diriku, Ola palsu.

Setiap pembicaraan yang kami obrolkan ada saja yang membuatku harus tiba-tiba mengubah perilakuku karena aku sering berubah pada sifat diriku yang sebenarnya. Tapi, karena hal itu, aku dan dia sering saling bercanda.

“Lu beda ya hari ini?”

“Beda apanya? Dari dulu gua kan kayak gini aja, lu tau sendiri setiap hari ngebuntutin lu terus,” kataku ngelak.

“Ah! Jangan sok basa-basi deh!,” katanya kemudian langsung terdiam dan mendekatkan kepalanya padaku dan bertanya, “kesamber apa lu? Kesamber gledek? Atau diracun Gricela?”
Deg! Dia bawa-bawa namaku. Aku berusaha tersenyum seperti Ola sering lakukan. Senyum rayuan maut.

“Mulai lagi nih!”, canda Upit.

Yang awalnya aku resah dengan pakaian dan fisik seperti ini, tapi akhirnya bisa santai juga dengan kehangatan yang dibawa Upit. Ditambah pembicaraan kami yang sering menyinggung nama-nama Gricela. Yah, itu aku.

Di rumah aku berpikir. Ada rasa tak tenang juga yang menyergap. Mungkinkah ia berpikir ada yang salah dengan Ola palsu tadi? Mungkinkah ia berpikir Ola asli berubah karena Gricela? Mungkinkah ia berpikir Ola asli berubah sikap karena diri Ola sendiri? Mungkinkah juga ia berpikir Ola asli berubah karena itu adalah salah satu bujuk rayu maut untuk mendapatkannya? Apakah ada kemungkinan yang lain bagi Upit? Aku lepas pakaianku satu persatu dan menggantinya dengan baju tidur. Ku tatap tubuhku yang berjiwa Ola, kapankah ia sadar?

Tiga hari berlalu. Upit terlihat uring-uringan.

“Kenapa Pit? Ada yang kelupaan?”, tanyaku yang masih di tubuh Ola.

“Bukan,” katanya langsung salah tingkah dan langsung bersikap sewajarnya meski terlihat agak memaksa. Aku pun penasaran.

“Lalu? Apa donk?”, tanyaku dengan sedikit bujuk rayu yang biasa dilakukan Ola dan akhirnya ia menjawab dengan pertanyaan, “Temen lu ke mana sih?”

Aku terdiam dan terduduk kembali dengan wajar. “Maksud lu?”, tanyaku pura-pura tak tahu. “Itu lho, Gricela!”, jawabnya dengan lantang.

Deg! Malah sekarang aku yang uring-uringan. Tapi berusaha kututupi dengan menghirup soft drink yang kubeli.

“Lagi sakit katanya,” kataku tapi dengan cepat kupotong, “bentar lagi juga baikan koq, cuma demam biasa.”

Kemudian, Upit dengan sigap meraih ponselnya.

“Mo telepon siapa?”, tanyaku.

“Gricela,” jawabnya singkat, padat, dan jelas.

“Eh! Tunggu! Orang sakit jangan diganggu donk! Nanti gua sampein deh apa yang lu mo omongin ke dia!”, kataku mencegahnya.

“AASL,” katanya tiba-tiba sambil masih memegang ponselnya. Tentu saja aku terbengong-bengong. “Ada Apa Sih Lu?”, tanyanya akhirnya.

“Oo… ga ada apa-apa koq, cuma kasih saran aja koq ke lu, ga ada salahnya kan?”, kataku panjang kali lebar sesabar dan sewajar mungkin. Ia mengangguk, mengeluarkan kertas, dan menulis pesan di dalamnya lalu dia memberikannya padaku.

“Gua bisa percaya lu kan?” Aku pun mengangguk pasti.

Di rumah, tentu saja aku yang membaca surat dari Upit itu.

 
Dear sweet Gricela,

Kata Ola, kamu sakit? Apa benar? Semoga omongannya itu bisa dipercaya meskipun aku tak menginginkanmu sakit. Anggap saja perkataan Ola itu bisa dipercaya, aku harap kamu bisa cepat sembuh ya. Masuk sekolah lagi dan kita bisa berbicara soal kehidupan lagi.
From: Upit

 

Apakah sebenarnya ia masih bersikap acuh tak acuh terhadap Ola dengan sikap Ola palsu ini? Dan sebenarnya ia menaruh perhatian padaku? Aku tak tahu harus senang atau sedih. Sekarang, aku yang berbalik menulis surat untuknya atas nama Ola.

 
Dear Upit nan handsome;

Pit, to the point aja ya. Lu tau kan dari dulu gua suka lu. Ga tau kenapa meskipun banyak lelaki ganteng dan smart di sekolah ini tapi gua kepincutnya sama lu. Makanya, sejak pertama kali lihat lu, gua bersemangat untuk mendapatkan cowo yang berbeda dengan cowo-cowo yang lain. Gua tau, lu ga suka perhatian sama gua, tapi setidaknya gua udah berusaha untuk berbuat baik untuk lu. Mungkin lu bertanya-tanya untuk apa gua menulis surat gombal ini tapi surat ini tulus dari hati gua. Gua memang ingin lu jadi cowo gue, tapi gua akan tetap menghargai kalau lu ga meminta lebih dari lu. Tapi gua yakin, lu tau apa yang gua mau dari lu. Gua tunggu balasannya besok dan paling lambat lusa. Thx…

With love: Luciola (‘Lidah Api’ yang akan selalu menjalari tubuhmu dengan kehangatan)

 

Keesokannya, seperti biasa saat di kantin, aku mendekatinya. Aku tau dia begitu senang karena ingin mendapat kabar dari Gricela.

“Gimana La keadaannya Gricela?”, tanyanya bersemangat.

“Dia? Udah lumayan baikan koq, mungkin lusa dia udah masuk sekolah,” kataku sambil menghirup soft drink yang sudah aku beli dan hati ini yang dag-dig-dug ingin memberikan surat yang telah kubuat. Surat cinta? Entahlah.

“Mm, Pit! Kemarin ‘kan lu kasih surat buat Gricela. Sekarang gua yang kasih surat yah buat lu, tapi ini asli dari gua,” kataku sambil mengeluarkan surat dari kantong dan memberinya.

“Bacanya waktu di rumah aja ya!”, kataku langsung beranjak dari tempat duduk. Aku tak tahu apa tindakanku ini salah apa benar. Karena mungkin memang tindakanku ini sudah bertindak terlalu jauh.

Hari esok. Hari Minggu. Hari terakhir ini di mana Ola asli harus kembali ke rumahnya. Bangun pagi, kubuka jendela. Lalu tidak sengaja aku menendang sesuatu. Lagi-lagi, aku terkejut kembali oleh kehadiran cermin mistik yang serupa dengan lima hari yang lalu. Apakah ini benar-benar cermin yang sama? Antara ragu dan yakin aku mempergunakannya, melihat tubuh Ola di luar jiwaku untuk terakhir kalinya. BLAM.

“Hey! Hey! Cela bangun! Udah pagi!”

Kemudian aku tersadar kembali dan benar-benar sadar. Aku sudah di tubuhku yang asli dan begitu juga Ola.

“Mm… La! Koq gua bisa ketiduran ya di kamar lu? Sekarang udah jam 8 pagi, kita telat donk ke sekolah?”, tanyanya sewot, “duh! Mana gua ga bawa apa-apa selain buku-buku pelajaran. Lho koq buku-buku gua rapi begini?”, lagi-lagi dia sewot dan aku bingung untuk menjelaskannya.

“Jadi sekarang kita ga bisa sekolah donk?” Lagi-lagi aku hanya bisa diam, pusing memikirkan jawaban yang tepat untuk semua pertanyaannya.

Tiba-tiba aku berlutut di hadapannya. “Sori ya, Ol! Lu mau maafin gua kan Ol!”

“Eh! Ada apa sih lu?”

“Sekarang hari Minggu, Ol”

What? Jadi, selama beberapa hari ini…”

“Ceritanya panjang Ol, tapi apa lu mo maafin gua ya?”

“Cerita dulu donk, ada apa?”

Kami pun akhirnya duduk bareng di atas kasurku dan aku menceritakan kejadian seluruhnya.

“Lu udah keterlaluan, La!”, katanya sambil memasukkan buku-buku ke dalam tasnya.

“Tapi Ol, gua kan udah minta maaf, gua ngaku salah”

“Gua ga peduli”, katanya kasar, “Sekarang mana bukti cermin itu?”

“Ada di…,” jawabanku terhenti karena lagi-lagi cermin itu hilang setelah dipakai.

Well…”, katanya terpotong lalu aku berkata lagi, “tapi soal penembakan itu, mungkin dia mau jawab hari ini atau besok La, kalau dia terima lu, itu kan salah satu keberuntungan buat lu.”

“Kalau ngga terima?,” tanyanya menyelidik dengan menatapku lalu meninggalkanku sendiri di kamar.

Sepi sendiri. Tak ada tangis. Tapi kudekap wajahku di bantal sambil terduduk di lantai. Ku bingung akan hari ini atau hari esok yang pasti akan kujalani. Bagaimana aku berhadapan dengan Ola? Bagaimana aku berhadapan dengan Upit? Yah, dengan tubuhku kembali yang asli.
*

“Aduh!”, lamunanku kembali buyar di mana aku berada di depan teras rumah setelah ditinggalkan oleh Upit. Aku memegang dahi yang baru saja terlempar oleh bola basket.

“Duh! Sori, adik manisku!”, kata kakakku yang baru saja pulang dari kuliah sorenya. “Sakit ya?”, katanya sambil mengusap-usapkan tangannya pada dahiku. “Ada apa sih cemberut?”, tanyanya lagi.

“Sakit tau!”, kataku judes.

“Hey! Adiknya Ricardo yang manis ini kenapa sih? Sebenarnya bukan karena masalah sakit karena bola ini kan? Tapi karena masalah Upit kan?”, tanyanya dengan pasti.

Aku hanya bisa mendelik. “Sori, itu juga salah kakak,” katanya sekarang yang merasa bersalah.

Kemudian ia menceritakan hal sebenarnya yang terjadi, bahwa cermin itu ditaruh di kamar oleh sepupu kecil yang diajak kakak main petak umpet dan lupa dibawa kembali, hal serupa terjadi saat sebelum jiwaku kembali ke tubuh semula. Setiap kali cermin itu mau dilihat kembali tak ada karena telah diambil kembali oleh kakak yang masuk diam-diam. Sekarang, cermin itu dikeramatkan oleh pamannya teman kakak yang menyimpan barang-barang keramat seperti cermin itu. Kakak mengetahui masalah ini karena ia diceritakan oleh Upit yang papasan di jalan tadi, karena Upit telah melihat kejadian hari Minggu itu dari luar kamarku dan mendengar sayup-sayup pembicaraan aku dan Ola. Kakak pun balik menjelaskan pada Upit tentang cermin itu.

“La!”. Tunggu! Suara Upit? Kembali lagi?

“Oya, lupa bilang,” kata kakak lalu berbisik, “kakak minta Upit supaya balik minta maaf ke kamu dan jadi someone spesial kamu,” katanya tersenyum lalu bergegas masuk ke dalam rumah sambil membawa bola basketnya. Aku terdiam. Upit duduk di sebelahku. Jantung ini berdegup kembali dengan cepat, entah meminta Upit untuk menjauh atau mendekat.

“Sori ya! Aku sendiri ga sengaja lewat depan rumah lu dan melihat apa yang terjadi”.

Aku hanya mengangguk tanpa ekspresi di wajah. “Please donk jangan marah! Gua hanya mau terima tawaran lu.”

Kali ini aku mengkerutkan dahi tak mengerti dan menatapnya.

“Surat ini….” Ia mengambilnya dari atas tanah yang baru ia buang tadi, “ini kan dari hati lu, yah… meskipun gaya bahasa Ola, gua sendiri udah omongin sama Ola en dia mengerti, tapi gua tetap menganggap surat ini dari lu seorang Gricela”.

Ia terdiam sejenak melihat tampangku yang sudah kembali tertekuk.

“Sebelum kejadian itu aku merasa kehadiran lu mewarnai kehidupan gua, sewaktu kejadian itu aku memang merasakan lu di tubuh Ola, dan setelah kejadian itu gua merasa yakin…”

“Sekarang gua mau balik tanya ke lu,” lanjutnya lagi, “would you be my heart?”, tanyanya sambil memegang kedua tanganku. Dari awal yang sebenarnya aku ingin membuyarkan air mata akhirnya keluarlah air mata ini dan hanya bisa mengangguk. Ia pun memelukku dan menenangkanku.

Apakah hal ini pasti terjadi jika tak ada cermin itu? Atau memang hal ini terjadi karena keinginan Tuhan? I just can say: Thanks God

Oktober 2006

_________________________________________________________________________

resto cafe My Cafe

resto cafe My Cafe

Lihat yang dibold? Yah, My Café, ternyata sekarang sudah benar-benar ada nama tempatnya. Bertempat di Jalan Kebon Sirih / Aceh no.19, Bandung dan didirikan baru sekitar satu tahun lebih (dari sumber yang pernah makan di sana). Bandingkan dengan tanggal saya memulai cerita yang jauh dari tahun tersebut.

Saya tahu, saya ga mendeskripsikan restorannya secara detil di cerita saya, jadi boleh percaya atau tidak dengan pernyataan saya ini. Saya sendiri sebenarnya belum pernah masuk ke TKP, tapi dari tampak luar kurang lebih sama dengan yang waktu itu saya bayangkan di dalam cerita. Nuansanya merah. Kalau tidak salah, penampakannya dari pintu masuk itu tempat duduknya ada yang di sebelah kiri, begitu pun dengan yang saya bayangkan.

Boleh percaya atau tidak. Saya sudah memberi tahu tahun cerita yang sebenarnya dengan pendirian resto café itu yang jaraknya lumayan jauh. Tinggal bagaimana anda menyikapinya.

 

Yang di benak saya sekarang, apakah benar-benar ada cerita lain yang tak sengaja terjadi di kehidupan nyata? Karena selama ini yang saya lihat di suatu ftv adalah sebuah kesengejaan bagaimana cerita itu terjadi di kehidupan nyata.

Silakan share bagi yang pernah mengalaminya… ^.^

Advertisements
Leave a comment »

7 tahun

7 tahun apa? Apa yang kira-kira di pikiran kalian saat melihat kata “7 tahun”?

Well, sebenarnya bukan “7 tahun”nya yang penting, tapi awal dari 7 tahun itulah yang penting, yang menghantarkanku pada titik yang sekarang kucapai.

Tahun 1999 merupakan tahun di mana aku menyukai seorang cowok hingga 7 tahun lamanya. Karena aku menyukainya, hal ini merupakan starting point di mana aku mulai menulis apa yang mau aku tulis. Apakah kalau aku tak menyukainya aku tak akan suka menulis? Pelajaran mengarang sewaktu SD saja hasilnya berantakan.

Lagi-lagi hanyalah Tuhan yang tahu. Ia memberikan jalan dengan suatu sentilan. Meskipun acara taksiran itu berlangsung selama hampir 7 tahun, tapi bukan berarti aku akhirnya berakhir bahagia dengannya. 7 tahun itu diisi dengan bagaimana cara menghargai suatu perasaan itu sebenarnya, di samping tulisan-tulisanku yang memuat tentang bagaimana aku jadian dengan dia meskipun itu hanyalah imajinasi belaka.

7 tahun, melewati 7 Hari Natal. Ia, dari yang masih jomblo hingga punya pasangan. Pelan-pelan, kurang lebih 2 bulan, akhirnya perasaan ini luntur juga. Hingga akhirnya ia menikah dan sekarang sudah mempunyai 2 anak. Aku turut bahagialah pastinya, apalagi perasaan ini sekarang hanyalah sekedar biasa saja dan rasa suka sudah 0 % sejak 2006 lalu.

Tahun ini Ia memberi selamat “Merry Christmas” duluan. Rasa senang tidak semelambung dahulu saat masih punya perasaan, hanya sedikit perasaan lucu yang hinggap karena dulu dan sekarang itu berbeda. Bahkan isi tulisanku saat ini tak mungkin lagi tentang imajinasi jadian belaka dengannya, melainkan bagaimana pengaruhnya dia dalam hidupku menyentuh dunia kepenulisan.

Apakah ia mengetahuinya? Tidak. Well, yah, dari awal memang kami sama-sama tak tahu apa pengaruhnya aku naksir dia, tapi ternyata Tuhan mempunyai jawaban lain yang lebih dahsyat. Meskipun hasil karya ini masih jauh lebih dari sempurna, tapi Tuhan masih bekerja di atas tanganku. Mengiringi setiap tangan ini bermain di atas tuts keyboard ataupun menarikan pena di atas kertas.

Ini baru awal mula sekali sebelum akhirnya teman-teman dekatku menjadi editorku yang setia sampai sekarang.

Mungkin inilah yang dinamakan “tidak ada yang kebetulan di dunia ini, karena everything happens for a reason.” Yah,  Tuhan memberikan sentilan kecil dengan naksir cowok itu (kenapa cowok itu? Jangan tanya, aku pun tak tahu mengapa) sehingga aku bisa menulis apa yang kumau hingga saat ini, hingga Natal ini, bahkan berbagi ucapan Natal pun dengan dia.

 

Semoga berkah Natal ini tidak hanya untuk sebagian orang, tetapi kepada semua orang yang mengimaninya. Amin.

 

Everything Happens for a Reason

Everything Happens for a Reason

Merry Christmas 2013 & Happy New Year 2014

Merry Christmas 2013 &
Happy New Year 2014

25 Desember 2013

Leave a comment »

Caci-maki Berbuah Karya

Sekitar tiga belas tahun lalu di suatu sekolah menengah pertama terlihat seorang gadis duduk di dalam kelas dua sendirian pada saat istirahat. Rambut hitam tebalnya dikuncir satu. Tangan kanannya asyik memainkan pena di atas selembar kertas. Sesekali tangan kirinya yang bebas membetulkan kacamatanya yang sesekali melorot.

Sesaat sebelum bel masuk berbunyi beberapa teman terlihat sudah memasuki kelas dengan berisik, beberapa diantaranya memanggilnya dengan sebutan yang sangat ia benci, “Camen!” Apakah jika mereka memiliki anak, mereka rela anaknya disebut demikian? “Anak Cacat Mental”. Entah apakah zaman sekarang masih ada sebutan itu? Selama sekitar lima sampai enam tahun hingga sekolah menengah atas gadis ini masih diperlakukan layaknya seperti orang yang tak sepantasnya berada di sekitar mereka yang merasa paling benar dan merasa paling sempurna sedunia.

Namun, apakah mereka sekarang menunjukkan hasil karya mereka sendiri? Gadis ini memang tidak bisa melawan di hadapan mereka, tetapi gadis ini melawan dengan hasil karya yang ia ketikkan saat ini, SEKARANG, di blog yang bernama depzkwan.wordpress.com. Jika mereka membaca blog ini, apakah mereka masih mengingatnya?

Tulisan demi tulisan yang ia mulai sejak 2 SMP tersebut merupakan perjalanan panjang hingga akhirnya mimpi menelurkan sebuah buku tercapai. Meskipun masih gabungan dengan penulis lain, tetapi ini adalah langkah kecil untuk melewati langkah selanjutnya.

Tahun 2013 adalah tahun “biru” buat gadis ini. Yah, gadis penyuka warna biru ini mengawali tahun 2013 dengan diterima mengajar di tempat kursus yang bertemakan BIRU. Kuasa Tuhan tidak hanya berhenti sampai di situ. Setelah bergabung dengan tim nulis Peri Penulis, sekitar bulan September-Oktober telur pertamanya pecah. Cover buku pertama baginya ini berwarna BIRU. Telur kedua yang merupakan proyek keduanya pun pecah melengkapi tahun ini dengan serba biru. Cover kumpulan cerita pendek bertemakan Natal diberi ornamen-ornamen Natal dengan warna dasar BIRU.

Apakah gadis ini melewatinya dengan mudah? Sama sekali tidak! Butuh perjuangan dan penolakan berkali-kali untuk membuahi telur-telur tersebut, bahkan sebenarnya ia tidak meminta serba biru itu datang padanya. Namun, serba biru itu yang malah datang sendiri padanya.

Tuhan memang bekerja dengan caraNya sendiri yang bahkan seringkali kita tidak tahu kapan datangnya, tapi Ia tahu kapan waktu yang tepat pada saat kita membutuhkannya.

image

LOOK AT THE WALL!!!
Sang Gadis sedang mengajar di tempat kursus
RUIJIE Education Center, jalan Emong 22, Bandung
022-96032832

image

SEE THE COVER!!
ini adalah kumpulan novelet edisi valentine seri 2
yang merupakan buku pertama Sang Gadis
@Rp 40.000,-

image

SEE THE COVER!
ini adalah buku kumpulan cerpen Natal
yang merupakan buku kedua Sang Gadis
@Rp 47.000,-

So, apakah ini semua merupakan kebetulan belaka?

Hanya Tuhan yang bisa menjawabnya.

Apakah Sang Gadis sedang berpromosi?

Sang Gadis hanya ingin menyampaikan bahwa karya Tuhan yang diturunkan padanya dan teman-teman sesama penulis ini hasilnya tidak hanya untuk mereka. Meskipun mungkin masih ada kurang kesempurnaan di dalamnya, tetapi mereka menghasilkan karya untuk memuliakan Tuhan dengan hati tulus.

Untuk sebagian hasil kumcer Natal akan disumbangkan kepada yang benar-benar membutuhkan. Jika teman-teman menghargai karya mereka, teman-teman pun menghargai hasil karya Tuhan.

Terima kasih sudah membaca. ^.^/

Ttd: Sang Gadis

Read the rest of this entry »

Leave a comment »