Depzkwan's Blog

My Life's Passion

Dag… Dig… Dug… Dream (D4)

creative monster banner picture by http://i901.photobucket.com/albums/ac219/gurenz/bannerff.jpg

 

Flash Fiction Contest by http://glen-tripollo.blogspot.com/2012/07/creative-talks-flash-fiction-contest.html

 

 

 

Hari ini Gizelda Louisa sedang di suatu tempat antah berantah. Gizelda menyebutnya demikian karena baru kemarin malam ia diculik keluarganya untuk bergegas pergi ke suatu tempat. Dengan mata yang masih mengantuk, ia sudah berada di bandara. Sebelum check-in, ternyata beberapa orang yang dikenalnya juga ikut dalam rombongan. Salah satunya adalah Rudolf Setiawan, teman baru Gizelda setengah tahun lalu saat mengikuti seminar fotografi. Setelah mendengar pembicaraan Rudolf dan beberapa teman yang lain, ternyata yang mengajak mereka turut serta adalah ibu Gizelda. Katanya untuk reuni kecil-kecilan sekaligus pergi bertamasya. Entah sejak kapan kata “bertamasya” sudah tidak ada lagi di dalam kamus keluarganya itu.

Orang tua Giz, panggilan Gizelda, memilih capsul plane, yang berarti pesawat berbentuk kapsul putih kecil ini bersifat privasi, tapi di dalamnya terdapat ruang keluarga yang besar dan nyaman, serta baru boleh digunakan saat sudah dipesan tiga bulan sebelumnya. Sekitar jam satu pagi lima belas orang masuk ke dalamnya dan menempati kursi yang dirasanya nyaman. Gizelda sendiri menempati sofa empuk di ujung menjauh dari hingar bingar keluarga dan teman-temannya itu untuk melanjutkan tidurnya yang terganggu kemarin malam.

Sudah tidak tahu berapa lama Gizelda tertidur, tiba-tiba ia merasakan kepalanya yang dielus-elus lembut oleh… Gizelda sendiri mencari-cari seseorang yang mengelus-elus kepalanya, tapi tak ada seorang pun di sekitarnya. Akhirnya ia mencari tahu dengan membelai kepalanya sendiri yang tiba-tiba ada seorang, eh, mungkin seekor, atau suatu monster kecil yang meloncat ke depan hidungnya lalu meloncat lagi ke pangkuan Gizelda.

“Ah!” pekik Gizelda tertahan dan mendorong monster kecil itu terjatuh ke lantai.

Beberapa orang yang mendengar melihatnya kebingungan, akhirnya “ada apa, Giz?”, ibunya yang khawatir pun mendekatinya.

“Oh, Ma, tadi ada…” Saat akan ditunjukannya, monster kecil itu malah menghilang.

“Ada apa?? Tidak ada apa-apa tuh. Mungkin kamu hanya bermimpi.”

“Tapi, tadi ada…”

“Sudahlah. Satu jam lagi kita akan sampai di No Wonder Land, jangan lupa bersiap-siap.”

Gizelda hanya bisa mengangguk dengan pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya.

Lagi-lagi ada yang membelainya. Kali ini tangan Gizelda yang dibelai. Saat Gizelda akan berteriak kembali, monster itu merenggangkan tangannya hingga panjang menutup mulut Gizelda sambil berkata: “Ssssttt, saya monster yang lucu kok, jangan takut ya,” kata monster kecil sambil tersenyum dan berkata lirih. Setelah respon Gizelda hanya diam kebingungan, monster itu pun mengembalikan tangannya seperti semula.

Tanpa ditanya oleh Gizelda, monster itu mulai mengenalkan dirinya di pangkuan Gizelda. Karena tempat duduk Gizelda memunggungi anggota keluarga dan teman lain, jadi makhluk sekecil itu tidak terlihat dari pangkuan Gizelda.

“Hai, aku monster biru, namaku Proton. Aku ke sini untuk membawa hal-hal yang berbau positif, sekian dan terima kasih,” katanya sambil membungkukkan badan ala sopan santun.

“Kenapa harus aku? Kenapa kamu bisa ke sini?”

“Mmm… nanti suatu saat Giz akan tahu sendiri.”

“Dari mana tahu namaku?”

“Itu juga nanti Giz akan tahu sendiri,” kata Proton lalu tiba-tiba menghilang.

Akhirnya tiba juga di negeri antah berantah a.k.a No Wonder Land ini. Perjalanan yang ditempuh selama kurang lebih tujuh jam ini cukup untuk Gizelda, keluarga, dan teman-temannya untuk beristirahat di dalam capsul plane. Gizelda sudah merasa lebih segar sekarang, tapi suasana hatinya masih tidak sesuai situasi menyenangkan di sekelilingnya. Tiba-tiba ada si Proton yang melayang-layang di depannya dan berkata: “Hai, Giz, ayo senyum!” katanya sambil mempraktekkan senyumnya yang lebar. “Ibumu membawamu ke sini agar kau melihat suasana yang berbeda, indah, dan menyenangkan.”

“Hey, itu Rudolf,” katanya sambil menunjuk tak jauh di sebelah Gizelda, “ayo, jalan bareng dia.” Meskipun tak mengerti maksud Proton, Gizelda tetap menyapa Rudolf lalu berlanjut obrolan yang menyenangkan dikelilingi bangunan pencakar langit dan dom-dom besar. Kata-kata positif dari Proton membuat nyaman perjalanan Gizelda yang tak disangka-sangka ini. Salah satunya adalah makan siang dengan orang terkenal di No Wonder Land di suatu rumah sederhana. Hanya delapan orang termasuk Gizelda dan ibunya yang berkesempatan emas makan bersama. Saat perjalanan dilanjutkan dan mulai masuk hutan yang berdesakan dengan kayu-kayu,  entah kenapa selalu membuat kakinya terbentur hingga memar. Ia menahan rasa sakitnya agar tidak ada yang terganggu dalam menikmati hutan yang dipenuhi kayu-kayu ini dan hanya sedikit daun di pohon-pohonnya tapi udaranya segar nian. Saat masuk ke suatu bangunan untuk tujuan terakhir hari itu, akhirnya ia meminta obat juga pada ibunya.

Karena tidak kuat berjalan di tangga, akhirnya ia berhenti sejenak mencari obat dalam dus yang diberi ibunya. Sementara itu, teman-teman dan keluarganya meninggalkan dia turun ke bawah. Ibunya yang awalnya menunggunya akhirnya meninggalkannya juga berpikir bahwa Gizelda akan menyusul secepatnya. Karena obatnya belum ketemu juga, akhirnya Gizelda memutuskan untuk mengejar para rombongan dahulu dengan rasa sakit yang ditahannya. Namun, semua terlambat. Kendaraan kereta terbang khusus untuk rombongan Gizelda sudah berangkat. Ia sendiri tak mengerti kenapa harus ditinggal. Tiba-tiba samar-samar terlihat Rudolf mendekatinya dan mengulurkan tangannya pada Gizelda dengan tersenyum.

Dag dig dug, jantung Gizelda berdegup keras saat tangannya bersentuhan dengan tangan Rudolf.

Dag dig dug dag dig dug…

“Dok, jantung pasien kembali berfungsi.”

Keadaan terdengar agak bising. Mungkin ini di Rumah Sakit karena suara dokter dan suster dipanggil saling bersahutan.

“Rudolf, jangan lepas dulu peganganmu.”

“Baik, Dok.”

Rudolf makin mengeratkan tangannya pada tangan Gizelda. Sedangkan Gizelda sendiri masih setengah sadar saat dokter mulai memeriksa keadaannya kembali.

“Biarkan dia istirahat,” kata dokter disertai anggukan Rudolf.

Sesaat Gizelda membukanya sebentar dan melihat Rudolf tersenyum lalu ia kembali tertidur.

Satu jam kemudian ia terbangun, dengan tangan masih disentuh lembut oleh Rudolf.

“Sudah sadar? Bagaimana rasanya? Sudah baikan?” Pertanyaan bertubi-tubi itu hanya dijawab dengan anggukan oleh Gizelda.

“Terima kasih ya sudah menemaniku,” kata Gizelda lemah.

“Ah, tak usah sungkan-sungkan. By the way,” katanya sambil mengambil sesuatu dari bawah tempat tidur dengan tangannya yang bebas, “ini untukmu.”

Gizelda menerimanya dengan kaget. Mata si boneka tiba-tiba mendelik dan tersenyum.

“Sesuai dengan warna kesukaanmu kan?” tanya Rudolf dengan perasaan puas.

“Proton?” tanya Gizelda keheranan.

“Ada yang salah, Giz?” balik Rudolf yang keheranan dan mengambil bonekanya dan mengamati.

“Mmm… ga ada. Lucu banget. Terima kasih ya,” kata Gizelda senang menutupi semua keheranan ini sambil mengambil boneka proton kembali.

Sudah lima belas hari Gizelda koma di Rumah Sakit. Saat sedang berfoto ria dengan Rudolf dan lima temannya di suatu hutan lindung, tiba-tiba Gizelda merasakan sakit yang amat sangat di kepalanya kemudian pingsan. Dokter mengatakan ada tumor jinak di kepalanya.

“Tumor? Apakah akan membesar, Dok?” tanya Rudolf sangat khawatir.

“Jika kita ikut memperhatikan kesehatannya, perkembangan tumornya akan melambat.”

“Itu berarti tetap saja ada potensi ke arah tumor ganas, Dok?”

Rudolf hanya mendapat anggukan dari sang dokter.

“Cek… cek…. Rudolf…” Suara Gizelda menyadarkan Rudolf dari lamunannya, “ada apa?”

Rudolf hanya bisa tersenyum kemudian mohon izin keluar sebentar.

Tidak ada Rudolf, waktunya Proton berubah ke wujud aslinya.

“Kau akan sembuh, Giz, percayalah,” katanya sambil terus berkata positif pada Gizelda.

“Kau tahu aku sakit apa?”

Dari yang menari-nari kecil, sekarang Proton berjalan mondar-mandir sambil menunduk di samping kasur Gizelda. Proton sendiri bergulat dalam hatinya apakah akan memberitahu. Akhirnya, “yang ku tahu ada hubungannya dengan otak.”

Antara kaget dan tidak. “Apa yang berhubungan dengan otak?” Gizelda pun sudah pasrah akan kehidupannya yang ditinggal orang tuanya keluar negeri karena alasan sibuknya pekerjaan. Hari-harinya dipenuhi oleh hasil jepretan foto-foto alamnya dan pekerjaan freelance sebagai fotografi. Pekerjaan menyenangkan ini mengapa masih membuat sakit pada dirinya? Apakah rasa kesepian akan membunuhnya? Apakah mimpi itu akan menjadi kenyataan?

“Mimpi? Proton, apa maksud mimpiku sebelumnya?”

“Kau bisa lihat, jika kau sembuh, kau bisa bersenang-senang kembali bersama keluargamu,” Proton menjelaskan dengan mata berbinar-binar, “dan kau juga bisa bersama dengan, ehm, Rudolf.”

Pipi Gizelda bersemu merah. “Gotchaaa…

“Kau tahu kenapa jantungmu bisa berdegup kencang kembali saat kau tersadar tadi?”

Gizelda hanya terdiam. Proton melanjutkan. “Itu karena aliran cinta kalian bersatu saat tangan kalian bersentuhan. Hormon dalam tubuhmu bereaksi saat tersengat listrik kimia cinta ini.”

“Proton, apa kau bisa menjelaskannya dalam bahasa sederhana?”

“Kalian tidak sadar bahwa kalian saling mencintai. Rasa saling itu yang bisa menyembuhkan penyakitmu.”

Gizelda terdiam kembali dengan pertanyaan yang berkecamuk di kepalanya.

Hari demi hari berlalu dengan perkembangan yang sedikit meningkat. Meskipun hanya sedikit, tetapi Gizelda, Rudolf, maupun Proton sudah mensyukurinya. Namun, seminggu kemudian hal yang tak diduga terjadi kembali. Saat ia dibawa jalan-jalan ke taman Rumah Sakit, kepalanya mengalami nyeri yang sangat hebat. Proton yang saat itu menjadi boneka dipegangnya erat-erat. Sedangkan Rudolf bergegas mencari dokter untuk diperiksa lagi.

“Bertahanlah, Giz!” mohon Rudolf meskipun entah dapat didengar apa tidak.

Hidup orang tidak ada yang tahu. Saat Rudolf memegang tangan Gizelda, kali ini Giz tidak bergeming meskipun jantungnya berdetak lemah. Melalui wujudnya sebagai boneka, Proton berusaha mengalirkan hal-hal positif melalui tangan Giz yang memegangnya erat. Hanya doa yang dapat diucapkan Rudolf saat ini, “Tuhan, jika kau ingin mengambil nyawanya, tukar saja dengan nyawaku.”

Beberapa jam kemudian dokter baru mengizinkan Rudolf masuk ke ruang ICU. Kondisinya yang lemah membuat Rudolf hanya diizinkan untuk hanya menemaninya, tanpa boleh berkomunikasi dahulu. Tangan Gizelda kembali digenggamnya erat, berharap mukzijat Tuhan turun padanya.

Cahaya putih yang keluar dari suatu ujung tak berujung begitu menyilaukan mata Gizelda. Apakah ini surga? Ia tak tahu harus bertanya pada siapa di saat sendirian seperti ini. “Belum waktunya kau ke sini, kembalilah,” suara itu bergema dan berulang-ulang terdengar. Kemudian berkelebatlah gambaran ceria keluarga, teman, maupun Proton di hadapannya.

“Giz,” tiba-tiba terselip suara Proton, “kau tidak akan kesepian lagi jika kau yang memulai untuk menyatukannya kembali, entah apa itu caranya. Kekesalanmu pada orang tuamu yang membuatmu seperti ini. Tanamkanlah pikiran positif akan orang tuamu agar mereka bisa mengatur waktu kembali bersamamu. Kau juga bisa memulai hal baru agar bisa berbagi dengan yang mempunyai kondisi yang sama denganmu.”

“Apakah tumor otaknya mulai ganas, Dok?” tanya Rudolf panik, khawatir, dan kata-kata yang tak bisa menjelaskan kegundahannya.

“Tiba-tiba tumornya mulai membesar, meskipun hanya beberapa inci, tapi cukup membuatnya memberi rasa sakit.”

Rudolf tak tahu Gizelda sudah sadar dan mendengarnya. Hanya titik air mata yang mengalir dari ujung mata Gizelda yang membuat Rudolf tersadar.

“Giz?”

“Aku sudah tahu semuanya, Dolf,” kata Gizelda lemah.

“Maafkan aku.”

“Kau tidak salah, aku yang salah dalam mengatur hidupku.”

Kemudian Gizelda mencoba mengambil kamera yang berada di samping kasurnya. Rudolf yang melihat langsung membantu mengambilkannya. “Untuk apa?”

“Kita berfoto saat aku tersenyum dalam keadaan seperti ini, untuk membangkitkan semangat mereka yang mempunyai keadaan yang sama.”

“Aku suka kamu yang seperti ini, Giz,” katanya sambil mencium kening Gizelda lalu mereka mulai berfoto ria, tidak lupa Proton juga diikutsertakan.

Enam bulan kemudian Gizelda boleh keluar dari Rumah Sakit meskipun belum pulih benar. Dokter menyarankan check-up seminggu sekali agar pengobatan tetap berlanjut dan terpantau dengan baik. Tidak disangka orang tuanya menyambutnya di luar Rumah Sakit dan membawanya pulang. Sementara Rudolf, setelah mengantar Gizelda pulang, mulai membantu Gizelda dalam mengurus mendirikan yayasan tumor otak untuk berbagai kalangan. Kehidupan baru selain fotografi akan dilakukan dalam membantu sesama.

Sekarang Gizelda berada di kamar hanya berdua dengan Proton.

“Kau hebat, Giz, bisa melewati semua ini.”

“Tapi aku belum sepenuhnya pulih,” kata Gizelda dengan murung.

“Hey, ingat. Dengan doa dan berpikiran positif kau akan dapat melewati semua ini.”

“Terima kasih, Proton, kau selalu membangkitkan semangatku.”

“Tak masalah, itulah tugasku,” kata Proton yang tiba-tiba tertidur dan kembali ke wujud boneka.

Pengurusan dalam mendirikan yayasan pastinya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi hal itu dijalankan bersamaan dengan waktu check-up Gizelda. Hingga dua bulan kemudian dokter menemukan keanehan. Tidak ada gejala membesar maupun mengecilnya tumor sejak check-up yang keempat meskipun ukurannya sudah jauh mengecil di saat terakhir keluar dari Rumah Sakit. Hanya mukzijat dari Tuhan yang dapat membuatnya seperti ini. Gizelda pun memutuskan tidak melakukan check-up kembali. Doa pertukaran nyawa yang sebelumnya diucapkan Rudolf sepertinya tidak dikabulkan.

Meskipun tubuhnya sudah terlihat kurus kering, tetapi tidak memberhentikan semangatnya dalam berfotografi, mendirikan yayasan, maupun menghidupkan kembali suasana menyenangkan dalam keluarga dan teman-temannya.

“Sekarang aku akan kembali, kau bisa meneruskan kehidupanmu dengan tenang.”

“Terima kasih banyak, Proton, impian sederhanaku telah tercapai.” Gizelda tersenyum memeluk Proton erat, kemudian wujud asli Proton menghilang diganti dengan boneka yang tak akan hidup kembali.

*

“Proton!!!!!”

“Iya, Yang Mulia Fieldcat the Creative Monster.”

“Kenapa Gizelda dan Rudolf belum pacaran??”

“Itu tugas Monster Cupid, Yang Mulia.”

“Baik, segera turunkan Monster Cupid atas mereka. Dan kau, Proton, segera bersiap menghadapi tugas baru bersama Smarty, Vigor, dan Slumber.”

“Siap, Yang Mulia!”

 

26 Agustus 2012

Inspired by: dream in the night & Agnes Jessica’s novel (one of ‘Pelangi’ novel)

Advertisements
12 Comments »

Cuando No Sabes (When You do Not Know)

Cuando no sabes decir nada,

Me duele

 

Cuando no sabes hacer nada,

Me duele

 

Cuando no sabes lo que pasó,

Me duele

 

Cuando no sabes ayudar,

Me duele

 

Cuando quieres saber algo

Pero no puedes actuar más allá,

Me duele

 

Cuando se sientes celoso,

Pero no se puedes hacer nada,

Es más doloroso

 

Por lo tanto, lo mejor tengo que hacer?

When you do not know say anything,

It hurts

When you do not know to do anything,

It hurts

When you do not know what happened,

It hurts

When you do not know how to help,

It hurts

When you want to know something

But you cannot act further,

It hurts

When you feel jealous,

But you cannot do anything,

It is more painful

so, what the best do I have to do?

– 20 Agt 2012

(PS: correct me if I was mistaken in using English and Spanish, thx ^^)

Leave a comment »