Depzkwan's Blog

My Life's Passion

Tarian Pena (#MyLifeAs)

on May 22, 2012

“Ken, ” kataku pada adikku, “tiga tambah tiga berapa?”

Ken melihat pada papan tulis yang tergantung dalam ruang meja belajar kami yang tertulis “3 + 3 =…”

“Enam,” jawabnya.

“Bagus,” kataku memberi apresiasi, “sekarang yang ini hasilnya berapa?” tunjukku pada baris yang lainnya.

 

Aku sudah tak ingat lagi kapan hal ini terjadi, bisa dikatakan terjadi sekitar awal tahun 90an waktu aku masih menginjak sekolah dasar, bahkan saat masih taman kanak-kanak. Pada saat itu pula setiap orang yang bertanya…

“Apa cita-citamu?”

Aku pun selalu menjawab dengan, “jadi guru.”

Entah guru apa, yang dipikiranku hanya menjadi guru serba-serbi. Apa itu guru serba-serbi? Entahlah, itu hanya pikiran anak kecil yang memiliki cita-cita. Aku hanya mempraktekkannya pada adikku sebagai objek muridnya.

 

Apakah cita-cita itu tercapai? Ya, cita-cita itu tercapai. Aku menjadi guru bahasa Mandarin. That’s all.

 

Namun, bagiku cita-cita masa kecil itu adalah egoku semata, sebatas untuk berkuasa atas segelintir anak yang belum terlalu mahir akan pelajaran yang mereka dapatkan. Seiring dengan berjalannya waktu aku pun melihat bila pekerjaan guru itu tidaklah mudah. Memasuki akhir sekolah dasar aku pun mulai melupakan cita-cita itu.

 

“Hei, Jes dan Lus!” panggilku setengah berbisik pada sahabat dekatku saat di kantin sekolah.

“Ada apa?” tanya mereka hampir bersamaan.

“Lihat deh cowo yang sedang minum Cole di situ,” kataku sambil mengarahkan mukaku pada lelaki imut yang sedang mengobrol dengan temannya di sudut kantin yang lain.

“Oh, anak SMA itu?” tanya Jessica setelah melihatnya.

“Iya, masa tadi dia mencampurkan susu stroberi pada minuman ringan itu?”

Tiba-tiba pandangan mereka tertuju padaku, meneliti dan menelaah lebih dalam.

“Kalau naksir bilang saja, Dev,” perkataan Lusi ini biasa saja, tapi cukup mengenai sasaran hingga mengubah wajahku menjadi kepiting rebus dan aku hanya bisa tersenyum.

 

Yah, mulai dari saat itu aku mulai mencari informasi tentang lelaki imut tersebut. Ternyata dia adalah sahabatnya saudaranya Jessica. Sebut saja namanya Jimmy. Hampir setiap hari aku memikirkannya meskipun belum mengenalnya. Karena impian untuk mengenalnya belum terwujud, jadi aku mulai menulis cerita tentang aku dan dia dan tentang bagaimana awal mula aku menjalin kasih dengannya (lagi-lagi hal itu hanya angan belaka). Bisa dibilang saat SMP inilah aku mulai serius untuk menulis, khususnya cerita non-fiksi.

 

Selain menulis cerita tentang aku dan Jimmy, aku juga menulis tentang petualanganku dengan salah satu grup musik asal Irlandia, Westlife. Tidak jarang juga Lusi dan Jessica menjadi editor dalam pembuatan cerita atau bahkan menulis bersama dalam satu cerita.

 

Masa-masa imajinasi yang begitu tinggi tersebut sayangnya tidak diiringi dengan alur yang menarik para pembaca. Guru les pelajaranku yang bersedia membacanya saat itu mengutarakannya dengan satu kata, “monoton.” Yah, karena aku sendiri terlalu larut dengan kehidupan yang monoton yang mempengaruhi gaya penulisanku saat itu.

 

Selama masa-masa SMP dan SMA pun aku menulis berbagai cerita non-fiksi, dari yang kunamakan cerita sangat pendek, cerita pendek, cerita agak panjang, hingga cerita panjang. Itu dikarenakan panjangnya cerita yang sering tidak menentu. Untuk cerita panjang juga kagok jika dikatakan sebuah novel. Pada saat SMA, diluar sahabat dekatku ada yang berkomentar tentang ceritaku yang belum selesai, “selesaikan donk, tidak sabar mau membacanya lagi.” Meskipun ceritaku masih jauh dari sempurna, ada yang menantikan tamatnya ceritaku ini dan guru bimbingan konseling yang membacanya berkata bagus itu rasanya sangat menyenangkan. Well, sampai sekarang cerita-cerita tersebut masih tersimpan menjadi kenangan belaka.

 

Menginjak masa kuliah tahun 2000an, aku mengenal beberapa teman yang mempunyai hobi menulis pula, bahkan beberapa cerpen mereka sudah menghiasi beberapa majalah remaja Indonesia ternama dan ada pula yang meraih juara 3 untuk kategori novel. Aku mulai belajar lagi alur cerita yang tidak monoton dan bagaimana membuat cerita yang menarik hati para pembaca yang dipengaruhi gaya penulisan beberapa temanku itu.

 

Aku masih tidak tahu apakah beberapa cerita masa kuliah yang kubuat itu berhasil memikat apa tidak. Adikku satu lagi yang seorang perempuan yang saat itu masih SMP selalu berkata bagus akan cerpen yang telah kubuat. Namun, salah satu majalah remaja Indonesia sepertinya tidak mengatakan hal yang sama pada dua cerpen yang telah kukirimkan (atau entah salah alamat karena sudah pindah). Aku pun mencoba beberapa kali mengirim puisi pada salah satu majalah berbasis bahasa Inggris dan tidak ada satupun yang berhasil masuk. Tidak ketinggalan pula untuk mencoba mengirimnya pada salah satu majalah khusus Bandung dan tidak ada tanggapan sama sekali.

 

Antara putus asa dan tidak, aku sampai memutuskan bertanya pada salah satu peramal yang sedang siaran di salah satu radio di Bandung, “apakah aku cocok menulis cerpen, skenario, atau novel?” Selain peramal ini, ada pula orang pintar lain yang menjawab sama, yaitu aku cocok menjadi cerpenis. Well, aku tidak langsung setuju dengan mereka, tapi jawaban mereka mengilhamiku agar bisa mendobrak jawaban paten tersebut menjadi jawaban yang lebih luas. Artinya? Aku pun berjuang tidak berhenti sebagai cerpenis, tapi juga mencoba menjadi novelis atau penulis apa saja. Siapa yang tahu selain Tuhan kan?

 

Suatu saat di jam kuliah yang jenuh, aku corat-coret di kertas. Ya, corat-coret sebuah cerita, hanya cerita pendek, yang setelah itu aku putuskan untuk membuat novelnya. Sudah selesai? Sejak tahun 2007 hanya ada perkembangan sedikit sekali, aku harus terus mencoba untuk mengembangkan karakter di dalamnya yang ternyata tidaklah mudah.

 

Sejak SMP hingga saat ini aku mencoba berbagai genre termasuk genre romance, fantasi (entah mistis), hingga misteri (lebih ke arah detektif). Sambil mengisi kekosongan dan mencari ilham untuk kelanjutan novel tersebut aku mulai menulis cerpen kembali, beberapa masih tersimpan dengan hangat di dalam komputer. Beberapa lagi ada yang kubagikan dengan teman di jejaring sosial, yang kusebut dengant cerita curhat, karena berdasarkan suasana hati yang sedang galau (biasanya). Genrenya? Ada yang romance, ada pula yang campuran.

 

Jejaring sosial juga ternyata sangat mendukung cita-citaku ini. Yang awalnya aku tak mau bergabung dengan yang namanya facebook atau twitter, tapi karena aku melihat peluang di dalamnya aku pun akhirnya bergabung di dalamnya. Lagi-lagi aku putus asa dibuatnya karena sepertinya aku salah menilai kedua jejaring sosial tersebut, aku tidak mendapatkan apapun yang berhubungan dengan menulis, kecuali blog dan note yang tersedia. Aku membutuhkan lebih dari sekedar itu. Namun, setelah tiga tahun kemudian aku mulai menyadari jika aku menambah teman atau grup yang tepat, aku pasti mendapatkan yang aku butuhkan dan itu terwujud.

 

Sekitar awal tahun 2012 ini aku mengikuti lomba menulis untuk liburan yang diadakan salah satu penerbit Indonesia di halaman facebook. Aku tidak tahu apakah karena kondisi fisik yang tidak mendukung atau tenggat waktu yang tinggal setengah hari lagi, aku tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Terlihat dari dua pemenang yang terpilih dan tidak ada namaku di dalamnya.

 

Kemudian sekitar bulan April 2012, lagi-lagi aku ketinggalan berita tentang lomba menulis yang diadakan Plot Point Creative Writing di jejaring sosial Twitter. Aku baru mengetahui perjalanan lomba yang berlangsung 6 minggu itu pada dua minggu terakhir dengan hashtag #CeritaHariIni dan tema yang berbeda setiap minggunya.

 

Karena mepetnya waktu, untuk yang bertema “Matahari” aku mengambil dari ceritaku yang sudah tersimpan lama dan tidak terpilih. Tinggal satu minggu terakhir dengan tema terakhir, aku benar-benar sudah pasrah karena tidak dapat ilham untuk tema “Bus Kota”. Akhirnya aku baru mendapatkan ilham dari salah satu program televisi di pagi hari satu hari sebelum tenggat waktu. Meskipun aku mengatakan ini adalah cerita mepet, tapi aku tidak menyia-nyiakannya karena akhirnya terpilih juga (meskipun hanya) nominasi enam besar dan mejeng di blog plot point.

 

Senang? Tentu saja. Karena aku merasa tanggal 1 Mei 2012 tersebut adalah hari pertama kalinya ceritaku dimuat secara publik. Tidak mendapat hadiah tidak masalah. Telah ada pengakuan dan dipajangnya di blog membuatku merasa bahagia.

 

Aku merasa perjuangan dari tahun 1999 hingga 2012 ini tidaklah sia-sia. Meskipun begitu perjuangan belum berakhir karena masih banyak lomba yang tenggat waktunya tidak dapat menunggu terlalu lama.

 

Pertanyaannya sekarang:

“Apakah cita-citaku sebagai penulis ini sudah tercapai?”

“Apa kadar seseorang untuk bisa dikatakan sebagai penulis?”

 

Bagiku mungkin aku sudah menjadi penulis untuk sendiri dan kalangan terbatas. Namun, belum menerbitkan satu buku pun belum menjadikanku sebagai penulis yang seutuh-utuhnya.

 

Terima kasih banyak untuk semua teman dan keluarga yang sudah mendukungku sebagai penulis cerita atau penulis apapun. Itu sangat berarti bagiku. Tarian pena ini tidak akan berhenti begitu saja.

 

Saatnya mengumpulkan berbagai cerita untuk dikirim ke Plot Point!!!

 

SELAMAT MENULIS!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: