Depzkwan's Blog

My Life's Passion

Tarian Pena (#MyLifeAs)

“Ken, ” kataku pada adikku, “tiga tambah tiga berapa?”

Ken melihat pada papan tulis yang tergantung dalam ruang meja belajar kami yang tertulis “3 + 3 =…”

“Enam,” jawabnya.

“Bagus,” kataku memberi apresiasi, “sekarang yang ini hasilnya berapa?” tunjukku pada baris yang lainnya.

 

Aku sudah tak ingat lagi kapan hal ini terjadi, bisa dikatakan terjadi sekitar awal tahun 90an waktu aku masih menginjak sekolah dasar, bahkan saat masih taman kanak-kanak. Pada saat itu pula setiap orang yang bertanya…

“Apa cita-citamu?”

Aku pun selalu menjawab dengan, “jadi guru.”

Entah guru apa, yang dipikiranku hanya menjadi guru serba-serbi. Apa itu guru serba-serbi? Entahlah, itu hanya pikiran anak kecil yang memiliki cita-cita. Aku hanya mempraktekkannya pada adikku sebagai objek muridnya.

 

Apakah cita-cita itu tercapai? Ya, cita-cita itu tercapai. Aku menjadi guru bahasa Mandarin. That’s all.

 

Namun, bagiku cita-cita masa kecil itu adalah egoku semata, sebatas untuk berkuasa atas segelintir anak yang belum terlalu mahir akan pelajaran yang mereka dapatkan. Seiring dengan berjalannya waktu aku pun melihat bila pekerjaan guru itu tidaklah mudah. Memasuki akhir sekolah dasar aku pun mulai melupakan cita-cita itu.

 

“Hei, Jes dan Lus!” panggilku setengah berbisik pada sahabat dekatku saat di kantin sekolah.

“Ada apa?” tanya mereka hampir bersamaan.

“Lihat deh cowo yang sedang minum Cole di situ,” kataku sambil mengarahkan mukaku pada lelaki imut yang sedang mengobrol dengan temannya di sudut kantin yang lain.

“Oh, anak SMA itu?” tanya Jessica setelah melihatnya.

“Iya, masa tadi dia mencampurkan susu stroberi pada minuman ringan itu?”

Tiba-tiba pandangan mereka tertuju padaku, meneliti dan menelaah lebih dalam.

“Kalau naksir bilang saja, Dev,” perkataan Lusi ini biasa saja, tapi cukup mengenai sasaran hingga mengubah wajahku menjadi kepiting rebus dan aku hanya bisa tersenyum.

 

Yah, mulai dari saat itu aku mulai mencari informasi tentang lelaki imut tersebut. Ternyata dia adalah sahabatnya saudaranya Jessica. Sebut saja namanya Jimmy. Hampir setiap hari aku memikirkannya meskipun belum mengenalnya. Karena impian untuk mengenalnya belum terwujud, jadi aku mulai menulis cerita tentang aku dan dia dan tentang bagaimana awal mula aku menjalin kasih dengannya (lagi-lagi hal itu hanya angan belaka). Bisa dibilang saat SMP inilah aku mulai serius untuk menulis, khususnya cerita non-fiksi.

 

Selain menulis cerita tentang aku dan Jimmy, aku juga menulis tentang petualanganku dengan salah satu grup musik asal Irlandia, Westlife. Tidak jarang juga Lusi dan Jessica menjadi editor dalam pembuatan cerita atau bahkan menulis bersama dalam satu cerita.

 

Masa-masa imajinasi yang begitu tinggi tersebut sayangnya tidak diiringi dengan alur yang menarik para pembaca. Guru les pelajaranku yang bersedia membacanya saat itu mengutarakannya dengan satu kata, “monoton.” Yah, karena aku sendiri terlalu larut dengan kehidupan yang monoton yang mempengaruhi gaya penulisanku saat itu.

 

Selama masa-masa SMP dan SMA pun aku menulis berbagai cerita non-fiksi, dari yang kunamakan cerita sangat pendek, cerita pendek, cerita agak panjang, hingga cerita panjang. Itu dikarenakan panjangnya cerita yang sering tidak menentu. Untuk cerita panjang juga kagok jika dikatakan sebuah novel. Pada saat SMA, diluar sahabat dekatku ada yang berkomentar tentang ceritaku yang belum selesai, “selesaikan donk, tidak sabar mau membacanya lagi.” Meskipun ceritaku masih jauh dari sempurna, ada yang menantikan tamatnya ceritaku ini dan guru bimbingan konseling yang membacanya berkata bagus itu rasanya sangat menyenangkan. Well, sampai sekarang cerita-cerita tersebut masih tersimpan menjadi kenangan belaka.

 

Menginjak masa kuliah tahun 2000an, aku mengenal beberapa teman yang mempunyai hobi menulis pula, bahkan beberapa cerpen mereka sudah menghiasi beberapa majalah remaja Indonesia ternama dan ada pula yang meraih juara 3 untuk kategori novel. Aku mulai belajar lagi alur cerita yang tidak monoton dan bagaimana membuat cerita yang menarik hati para pembaca yang dipengaruhi gaya penulisan beberapa temanku itu.

 

Aku masih tidak tahu apakah beberapa cerita masa kuliah yang kubuat itu berhasil memikat apa tidak. Adikku satu lagi yang seorang perempuan yang saat itu masih SMP selalu berkata bagus akan cerpen yang telah kubuat. Namun, salah satu majalah remaja Indonesia sepertinya tidak mengatakan hal yang sama pada dua cerpen yang telah kukirimkan (atau entah salah alamat karena sudah pindah). Aku pun mencoba beberapa kali mengirim puisi pada salah satu majalah berbasis bahasa Inggris dan tidak ada satupun yang berhasil masuk. Tidak ketinggalan pula untuk mencoba mengirimnya pada salah satu majalah khusus Bandung dan tidak ada tanggapan sama sekali.

 

Antara putus asa dan tidak, aku sampai memutuskan bertanya pada salah satu peramal yang sedang siaran di salah satu radio di Bandung, “apakah aku cocok menulis cerpen, skenario, atau novel?” Selain peramal ini, ada pula orang pintar lain yang menjawab sama, yaitu aku cocok menjadi cerpenis. Well, aku tidak langsung setuju dengan mereka, tapi jawaban mereka mengilhamiku agar bisa mendobrak jawaban paten tersebut menjadi jawaban yang lebih luas. Artinya? Aku pun berjuang tidak berhenti sebagai cerpenis, tapi juga mencoba menjadi novelis atau penulis apa saja. Siapa yang tahu selain Tuhan kan?

 

Suatu saat di jam kuliah yang jenuh, aku corat-coret di kertas. Ya, corat-coret sebuah cerita, hanya cerita pendek, yang setelah itu aku putuskan untuk membuat novelnya. Sudah selesai? Sejak tahun 2007 hanya ada perkembangan sedikit sekali, aku harus terus mencoba untuk mengembangkan karakter di dalamnya yang ternyata tidaklah mudah.

 

Sejak SMP hingga saat ini aku mencoba berbagai genre termasuk genre romance, fantasi (entah mistis), hingga misteri (lebih ke arah detektif). Sambil mengisi kekosongan dan mencari ilham untuk kelanjutan novel tersebut aku mulai menulis cerpen kembali, beberapa masih tersimpan dengan hangat di dalam komputer. Beberapa lagi ada yang kubagikan dengan teman di jejaring sosial, yang kusebut dengant cerita curhat, karena berdasarkan suasana hati yang sedang galau (biasanya). Genrenya? Ada yang romance, ada pula yang campuran.

 

Jejaring sosial juga ternyata sangat mendukung cita-citaku ini. Yang awalnya aku tak mau bergabung dengan yang namanya facebook atau twitter, tapi karena aku melihat peluang di dalamnya aku pun akhirnya bergabung di dalamnya. Lagi-lagi aku putus asa dibuatnya karena sepertinya aku salah menilai kedua jejaring sosial tersebut, aku tidak mendapatkan apapun yang berhubungan dengan menulis, kecuali blog dan note yang tersedia. Aku membutuhkan lebih dari sekedar itu. Namun, setelah tiga tahun kemudian aku mulai menyadari jika aku menambah teman atau grup yang tepat, aku pasti mendapatkan yang aku butuhkan dan itu terwujud.

 

Sekitar awal tahun 2012 ini aku mengikuti lomba menulis untuk liburan yang diadakan salah satu penerbit Indonesia di halaman facebook. Aku tidak tahu apakah karena kondisi fisik yang tidak mendukung atau tenggat waktu yang tinggal setengah hari lagi, aku tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Terlihat dari dua pemenang yang terpilih dan tidak ada namaku di dalamnya.

 

Kemudian sekitar bulan April 2012, lagi-lagi aku ketinggalan berita tentang lomba menulis yang diadakan Plot Point Creative Writing di jejaring sosial Twitter. Aku baru mengetahui perjalanan lomba yang berlangsung 6 minggu itu pada dua minggu terakhir dengan hashtag #CeritaHariIni dan tema yang berbeda setiap minggunya.

 

Karena mepetnya waktu, untuk yang bertema “Matahari” aku mengambil dari ceritaku yang sudah tersimpan lama dan tidak terpilih. Tinggal satu minggu terakhir dengan tema terakhir, aku benar-benar sudah pasrah karena tidak dapat ilham untuk tema “Bus Kota”. Akhirnya aku baru mendapatkan ilham dari salah satu program televisi di pagi hari satu hari sebelum tenggat waktu. Meskipun aku mengatakan ini adalah cerita mepet, tapi aku tidak menyia-nyiakannya karena akhirnya terpilih juga (meskipun hanya) nominasi enam besar dan mejeng di blog plot point.

 

Senang? Tentu saja. Karena aku merasa tanggal 1 Mei 2012 tersebut adalah hari pertama kalinya ceritaku dimuat secara publik. Tidak mendapat hadiah tidak masalah. Telah ada pengakuan dan dipajangnya di blog membuatku merasa bahagia.

 

Aku merasa perjuangan dari tahun 1999 hingga 2012 ini tidaklah sia-sia. Meskipun begitu perjuangan belum berakhir karena masih banyak lomba yang tenggat waktunya tidak dapat menunggu terlalu lama.

 

Pertanyaannya sekarang:

“Apakah cita-citaku sebagai penulis ini sudah tercapai?”

“Apa kadar seseorang untuk bisa dikatakan sebagai penulis?”

 

Bagiku mungkin aku sudah menjadi penulis untuk sendiri dan kalangan terbatas. Namun, belum menerbitkan satu buku pun belum menjadikanku sebagai penulis yang seutuh-utuhnya.

 

Terima kasih banyak untuk semua teman dan keluarga yang sudah mendukungku sebagai penulis cerita atau penulis apapun. Itu sangat berarti bagiku. Tarian pena ini tidak akan berhenti begitu saja.

 

Saatnya mengumpulkan berbagai cerita untuk dikirim ke Plot Point!!!

 

SELAMAT MENULIS!!!

Leave a comment »

Indah Pada Waktunya (Story)

Oke, Setelah postku yang pertama kemarin akhirnya ku persembahkan juga cerita ini pada kalian semua.

Cerita ini masuk nominasi 6 besar pada ajang lomba plot point creative writing #CeritaHariIni 1 Mei 2012, bs dilihat di http://plotpointkreatif.blogspot.com/2012/04/indah-pada-waktunya.html

 

 

“Ibu, saya pergi ke Kampung Rambutan ya…”

“Hati-hati ya, nak.”

“Ya, bu.”

Deden masih kecil, kira-kira berumur delapan tahun. Karena keterbatasan ekonomi orang tuanya, ia pun tidak bisa bersekolah sejak kecil. Ayahnya hanyalah seorang buruh bangunan dan ibunya adalah seorang kuli cuci bagi tetangga-tetangganya. Hasil jerih payah mereka hanya bisa untuk membeli makanan untuk penyambung hidup beberapa minggu atau bahkan beberapa hari. Mereka memang buta huruf, tapi kalau urusan uang, mereka masih dapat menghitung bilangannya.

Saat Deden berumur tujuh tahun ia menemani ayahnya saat menjadi buruh bangunan panggilan di dekat Kampung Rambutan. Karena ia jenuh hanya melihat-lihat saja, akhirnya ia pun berjalan-jalan ke arah terminal bus kota. Saat itu masih pagi hari, tapi sudah banyak orang yang hilir mudik menggunakan jasa bus kota di sini.

“Hey, Den! Sedang apa kau di sini?”

“Udin? Saya sedang menunggu ayah bekerja di sekitar sini, kamu sedang apa?”

“Saya mau bekerja.”

“Bekerja apa?”

“Kamu mau kerja juga, Den?”

Setelah berpikir sejenak, Deden pun menganggukkan kepalanya.

“Ayo, ikuti aku!”

Tempat Udin bekerja tidak terlalu dari situ, masih di terminal Kampung Rambutan, tepatnya di pinggir jalannya. Udin adalah teman sekampung Deden. Saat tiba di tempat yang dituju, ternyata di situ juga ada beberapa anak seumuran mereka juga dari kampung lain ditemani beberapa ember.

“Pak, saya ajak teman saya ya, hasilnya dilebihkan dikit boleh ya, Pak.”

Deden meminta dengan muka memelas. Pak Sukro yang awalnya ingin marah itu tidak jadi karena muka-muka anak ini yang minta dikasihani begitu menyentuh hati Pak Sukro. Ia hanya bisa menggeleng-geleng kepala dengan berkata, “Ya, ya… tapi hanya sedikit ya, sekarang kalian mulai mencuci.” Meskipun jawabannya seperti tidak peduli, tapi sebenarnya ia masih menyimpan rasa iba pada anak-anak ini.

“Terima kasih banyak, Pak,” kata Deden dan Udin hampir berbarengan dan mencium tangan Pak Sukro. Mereka dan anak-anak lain pun mulai mencuci bus kota yang dari tadi sudah nangkring minta untuk dimandikan. Ya, pekerjaan mereka adalah mencuci bus kota yang mampir maupun yang menginap di  terminal itu.

Yah, itulah asal mula pekerjaan Deden selama sekitar satu tahun itu. Orang tuanya tentu tidak memarahinya karena mereka merasa Deden telah meringankan beban hidup mereka meskipun tidak begitu seberapa menutupi kekurangan yang ada. Cukup makan. Dua kata itulah merupakan slogan hidup mereka.

Pagi ini ada kejutan besar sedang menanti Deden. Siapapun tak akan ada yang menduganya. Diawali dari Udin yang mengajaknya menjadi kenek bus kota setelah mencuci bus di pagi hari. Tentu saja Deden menerima ajakannya kembali.

Di dalam penuh sesak dengan orang dari berbagai jenis kelamin dan berbagai posisi pekerjaan. Ada yang duduk, ada juga yang berpegangan pada pegangan di bagian atas bus. Deden dan Udin harus berdesakan untuk melewati mereka dan mengambil ongkos para penumpang. Lembaran demi lembaran ribuan rupiah pun diterima Deden dan Udin untuk diberikan pada supir.

Mereka tak tahu ada sepasang mata yang menatap mereka sejak pemilik sepasang mata itu menaiki bus. Melalui jendela di sebelah tempat duduknya, sekali-sekali ia melihat ke arah luar bus, merenung tindakan selanjutnya terhadap kedua anak laki-laki itu.

Beberapa menit kemudian, tibalah sang pemilik sepasang mata itu tiba di tempat tujuan. Namun, tunggu. Dia tidak turun. Dia terus berada di dalam bus kota hingga bus itu kembali lagi ke terminal Kampung Rambutan, yang berarti hari sudah menjelang sore. Sebenarnya dia sendiri masih penasaran apakah tindakannya itu dapat berdampak baik bagi kedua anak tersebut.

“Mmm… De?” akhirnya saat turun di terminal Kampung Rambutan itu, sang pemilik sepasang mata itu pun membuka suaranya pada Deden.

“Ya, Pak? Ada apa?” telisik Deden saat berbalik dan seperti menyelidiki pemilik sepasang mata itu yang masih berpikir apakah langkah yang ia ambil itu akan tercapai.

“Apa kalian ada waktu? Saya ingin berbicara dengan kalian,” katanya sambil berjongkok di depan mereka tanda ingin menyejajarkan diri dengan Deden dan Udin.

Deden dan Udin saling bertatapan, berpikir sebentar, lalu mengangguk berbarengan meskipun pemikirannya masih berkecamuk beribu-ribu pertanyaan. Pria ini mengajak mereka ke warung terdekat untuk makan siang sekaligus mengobrol. Tentu saja Deden dan Udin menyantap makanannya dengan asyik.

“Kenalkan, saya Brendan, panggil saja saya om Brendan,” katanya sambil menjabat tangan Deden dan Udin. Om Brendan yang kira-kira berumur tiga puluhan ini berperawakan tinggi, tidak terlalu gemuk juga tidak terlalu kurus, berkulit agak coklat karena sering tertempa matahari saat menunggu bus kota.

“Apakah kalian bersekolah?”

Lagi-lagi Deden dan Udin tidak bersuara dan hanya menggelengkan kepala.

“Pernah bersekolah?”

Dijawab lagi dengan gelengan kepala.

“Apakah kalian mau bersekolah?”

Kali ini Deden dan Udin mengangguk dengan semangat dan senyuman menghiasi wajahnya. Om Brendan pun ikut tersenyum.

“Mau saya biayai kalian sekolah?”

“Hmmm… boleh saya tanya orang tua saya dulu, Om??” tanya Deden.

“Apa orang tua kalian ada di rumah? Sekalian saya juga ingin berbicara langsung dengan mereka,” om Brendan berharap banyak kerja sama dari orang tua mereka.

“Kalau ibu saya sudah pasti ada di rumah, Om. Ayah saya belum tentu ada di rumah,” jelas Deden.

“Saya hanya punya ibu di rumah, om,” kata Udin dengan sedih.

“Tidak apa-apa,” kata om Brendan sambil menepuk pundak Udin sambil tersenyum untuk menyemangati.

Akhirnya om Brendan bertemu ibu dari kedua anak tersebut. Awalnya tentu saja para ibu itu curiga dengan maksud kedatangannya. Namun, setelah dijelaskan bahwa ia merupakan anggota dari Gerakan Orang Tua Asuh dan diperlihatkan bukti keanggotaannya, maka para ibu pun mempercayakan semuanya kepada om Brendan.

Malam hari saat keluarga Deden makan malam bersama, ibu deden memulai percakapan tentang pertemuannya dengan om Brendan tadi siang. Ternyata perihal Deden sekolah memang keinginan ayahnya sejak dahulu, tentu saja beliau mengizinkan Deden bersekolah.

Setelah mengurus surat-suratnya, om Brendan memasukkan Deden dan Udin ke sekolah elit. Sekolah yang menjunjung tinggi tingkat kedisiplinan dan kemoralan yang baik itu membuat mereka betah bersekolah di sana. Meskipun mereka telat masuk sekolah yang menyebabkan mereka di kelas 1 SD berumur lebih tua dari teman sekelasnya, tapi tidak ada perlakuan diskriminasi dari berbagai pihak sekolah.

Hingga lulus kuliah, nilai-nilai yang dihasilkan mereka pun tergolong baik. Om Brendan menyerahkan sisanya pada Deden dan Udin yang sudah bisa bekerja di beberapa perusahaan mobil.

Suatu saat om Brendan yang sudah mulai uzur tidak kuat lagi menjalani anggotanya sebagai orang tua asuh, giliran Deden yang meneruskan keanggotaannya sebagai tanda terima kasih atas usahanya selama ini. Sedangkan Udin tetap berkonsentrasi pada perusahaan yang diminatinya.

Tidak disangka, Deden dan Udin yang saat ini sudah berumur 30 tahun ini sudah mempunyai rumah kecil dan sebuah kendaraan bermotor yang sederhana bagi keluarga kecilnya, orang tua dan mereka sendiri. Untuk urusan jodoh masih bisa menunggu sampai pada waktunya, kata mereka. Hanya kerja keras untuk membahagiakan orang tuanyalah di pikiran mereka saat ini.

Kerja keras mereka ini sampailah pada saat yang tidak diduga oleh penghuni terminal Kampung Rambutan termasuk Pak Sukro. Deden dan Udin bersepakat untuk mendedikasikan pada tempat kerja masa kecilnya dulu. Mereka membenahi terminal Kampung Rambutan dari tempat cuci hingga fasilitas bus-bus kota itu sendiri. Pak Sukro sangat berterima kasih pada mereka. Anak-anak kampung yang bertugas mencuci pun diangkat sebagai anak asuh oleh Deden. Mereka masih boleh bertugas mencuci bus kota saat siang hari setelah selesai sekolah.

Akhirnya suatu saat Deden harus berpisah dengan Udin yang dipindahtugaskan keluar pulau. Deden mengantarkan kepergian Udin di stasiun kereta api. Mereka berpelukan lama dan saling menyemangati satu sama lain.

“Jaga ibuku ya,” kata Udin dengan mata sendu.

“Pasti, Din,” kata Deden meyakinkan.

Tiba-tiba ponsel Deden berbunyi, ia mendapat kabar dari ibunya kalau om Brendan terserang penyakin jantung. Udin menunda kepergiannya, bersama Deden pergi ke Rumah Sakit di mana om Brendan dirujuk.

Setelah menunggu om Brendan siuman dari operasi seharian, Deden dan Udin dipersilakan masuk dan dibiarkan bertiga oleh keluarganya.

“Deden, Udin, selamat kalian telah menempuh perjalanan panjang dan menerima permohonanku sebagai anak asuh serta menjalankan pendidikan dan pekerjaan dengan sangat baik. Sekaranglah waktunya kalian ikut dalam menyebarkan kebaikan di sekitar kalian agar semakin banyak orang yang berhasil seperti kalian.”

“Baik, om. Terima kasih juga telah membimbing kami selama ini,” kata Deden sambil menahan tangisnya.

Om Brendan hanya tersenyum dan meninggalkan mereka selamanya.

Ya, sekaranglah giliran mereka menyebarkan berkat, berkat yang tidak hanya dititipkan om Brendan pada mereka, tetapi berkat dari Tuhan yang diturunkan pada mereka. Tidak ada yang tidak mungkin jika disertai niat yang baik dan tulus dan segalanya pasti indah pada waktunya.

Deden membuktikan bahwa bus kota bukanlah tempat ia bekerja sebagai kenek saja, tapi tempat awal mula keajaiban terjadi.

 

26 April 2012

Leave a comment »

Starting Point

Welcome to my first blog. It is the starting point for me to begin something new. What is it? Well, it seems like introduce myself to the world (go public) and share everything that I like.

 

What do I like?

Hmm… Let’s see…

I like reading books, writing stories, drawing abstract, learning languages, photography.

We can share everything about them. ^^

 

Hmm, maybe for the 2nd post I wanna post my story in Indonesian language. Just check it out…

Leave a comment »

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

1 Comment »